Penyiraman yang tidak teratur di musim kemarau menjadi salah satu pemicu utama stres pada perakaran oyong. Tanaman oyong idealnya disiram sebanyak 2 kali sehari, yaitu pada pukul 06.00 pagi dan 16.00 sore, dengan volume sekitar 1 hingga 2 liter air per lubang tanam bergantung pada tekstur tanah. Kekurangan air mengganggu penyerapan unsur hara mobilitas tinggi seperti Nitrogen dan Magnesium, yang ditandai dengan perubahan warna daun tua di bagian bawah menjadi kuning pucat sebelum merambat ke bagian atas.
Serangan hama penghisap cairan seperti kutu kebul (Bemisia tabaci) dan thrips berkembang sangat cepat pada kondisi cuaca kering dan panas. Hama-hama ini merusak sel foliar tanaman, menyebabkan bercak-bercak kekuningan, daun memutar ke atas, dan dalam banyak kasus menularkan penyakit virus kuning. Untuk mengendalikan populasi vektor hama ini tanpa mengganggu ekosistem, pemasangan perangkap pelekat kuning sebanyak 2 hingga 3 buah per 10 meter persegi area tanam sangat efektif diterapkan sejak fase vegetatif awal.
Manajemen tanah dan pemangkasan sanitasi menjadi kunci pemulihan tanaman oyong yang mengalami pemuningan daun. Pemberian mulsa organik dari jerami padi setebal 5 hingga 10 cm di atas guludan mampu menahan penguapan air tanah hingga 40 persen selama bulan-bulan kering. Selain itu, pemangkasan daun-daun tua yang telah menguning lebih dari 50 persen pada ketinggian 15 hingga 20 cm dari permukaan tanah akan memperbaiki sirkulasi udara dan memfokuskan nutrisi ke pembentukan bunga serta buah.






