Penyebab utama pertama daun oyong menguning adalah kekurangan pasokan air secara berkala, yang diperparah oleh suhu tanah yang terlalu tinggi di siang hari. Tanaman oyong membutuhkan penyiraman minimal sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi hari sebelum pukul sembilan dan sore hari setelah pukul empat. Jika media tanam dibiarkan kering selama lebih dari dua hari berturut-turut pada musim kemarau, laju fotosintesis akan terhenti dan daun tua akan mengorbankan diri menjadi kuning lalu gugur demi kelangsungan hidup pucuk tanaman.
Selain faktor kekeringan, serangan hama kecil seperti tungau merah dan kutu kebul sangat marak terjadi pada musim kemarau akibat kelembapan udara yang rendah. Hama-hama ini mengisap cairan sel dari bagian bawah daun oyong, meninggalkan bercak-bercak kuning kecil yang lama-kelamaan menyatu dan membuat seluruh helai daun mengering. Kehadiran hama ini dapat dideteksi dengan melihat adanya jaring halus di balik daun atau serangga putih kecil yang beterbangan saat tanaman digoyang secara perlahan pada pagi hari.
Faktor terakhir yang sering diabaikan adalah defisiensi unsur hara makro, khususnya nitrogen dan magnesium, karena pencucian pupuk yang tidak tepat atau kurangnya pemupukan susulan. Di musim kemarau, pemberian pupuk padat harus selalu diikuti dengan penyiraman yang cukup agar unsur hara dapat larut dan diserap oleh sistem perakaran dengan optimal. Petani disarankan melakukan pengamatan visual secara rutin setiap tiga hari sekali untuk membedakan apakah gejala kuning pada daun oyong disebabkan oleh hama, penyakit, atau sekadar kekurangan hara dan air.