Selain masalah kekeringan, serangan hama vektor virus seperti kutu kebul dan thrips meningkat drastis pada cuaca panas dan kering. Hama ini mengisap cairan daun muda dan menularkan penyakit virus mozaik atau Gemini yang ditandai dengan daun menguning, melengkung ke atas, dan pertumbuhan tanaman yang kerdil. Pengamatan rutin pada permukaan bawah daun sekurang-kurangnya 2 kali seminggu sangat penting untuk mendeteksi keberadaan koloni hama sebelum kerusakan meluas ke seluruh areal pertanaman.
Defisiensi nutrisi spesifik juga sering memicu gejala klorosis pada daun labu. Kekurangan Nitrogen menyebabkan daun-daun tua di bagian bawah menguning terlebih dahulu sementara tulang daun tetap hijau muda, sedangkan kekurangan Magnesium memicu warna kuning di antara tulang daun. Pemberian pupuk organik cair berbahan dasar urin kelinci atau kompos matang sebanyak 250 ml per lubang tanam setiap 7 hari sekali terbukti efektif memulihkan kesegaran daun selama fase vegetatif.
Langkah pencegahan yang tidak kalah penting adalah pengelolaan lingkungan mikro lahan tanam. Penutupan tanah menggunakan mulsa jerami setebal 5-8 cm di sekitar pangkal batang mampu menekan laju penguapan air hingga 40 persen sekaligus menjaga suhu tanah tetap stabil. Jika kondisi daun menguning sudah melebihi 30 persen dari total tajuk, pemangkasan daun-daun tua yang parah perlu dilakukan untuk menghemat energi tanaman dan meningkatkan sirkulasi udara di sekitar perakaran.






