Penyebab paling sering pada musim kemarau adalah defisiensi unsur hara makro seperti nitrogen atau kekurangan air irigasi yang membuat penyerapan nutrisi terhambat. Tanaman kubis memerlukan pasokan air yang stabil sebanyak 25 hingga 30 milimeter per minggu pada fase pembentukan krop untuk menjaga turgor sel dan kelarutan pupuk di dalam tanah. Apabila irigasi terlambat dilakukan selama tiga hari berturut-turut pada tanah berpasir, daun luar kubis akan mulai menguning kusam dan mengering dari tepi. Di sisi lain, kelembapan tanah yang ekstrem akibat penyiraman berlebihan di siang hari terik juga dapat memicu busuk akar yang menunjukkan gejala serupa.
Selain faktor lingkungan dan hara, serangan hama penghisap cairan daun seperti kutu kebul atau trips sangat marak terjadi saat cuaca panas dan kering di Indonesia. Hama ini bergerombol di bawah permukaan daun, mengisap cairan sel, dan meninggalkan bercak kuning kecil yang lama-kelamaan menyatu menutupi seluruh helaian daun. Patogen tular tanah seperti Fusarium oxysporum juga dapat memanfaatkan kondisi stres kekeringan untuk menginfeksi jaringan pembuluh xilem, menyebabkan penguningan asimetris pada satu sisi daun kubis. Identifikasi yang akurat melalui diagnosis diferensial sangat krusial agar tindakan pengendalian yang kita ambil tepat sasaran dan efisien.
Langkah pemulihan harus segera dilakukan dengan memperbaiki manajemen penyiraman menggunakan sistem irigasi tatas atau kocor sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Lakukan pemupukan susulan berimbang dengan memberikan tambahan unsur nitrogen dan kalsium untuk memperkokoh dinding sel daun kubis yang mulai pulih. Untuk pengendalian hama dan penyakit, aplikasikan prinsip PHT dengan menjaga kebersihan lahan dari gulma inang dan mencabut tanaman yang terinfeksi berat agar tidak menular. Selalu konsultasikan pemilihan bahan pengendali kimia kepada petugas POPT atau penyuluh di BPP setempat agar sesuai dengan ambang batas ekonomi.