Serangan hama utama seperti ulat daun kubis (Plutella xylostella) ditandai dengan bercak transparan menyerupai jendela pada daun bagian bawah. Jika tidak ditangani dalam rentang 5 hingga 7 hari, ulat ini dapat memakan habis jaringan hijau daun dan menyisakan tulang daun saja, terutama saat cuaca panas dan kering.
Selain ulat daun, ulat krop (Crocidolomia pavonana) menyerang titik tumbuh atau bagian tengah tanaman yang mulai membentuk krop pada umur 30 hingga 45 hari setelah tanam. Hama ini meninggalkan benang sutra dan kotoran hitam yang membusuk, sehingga krop tidak dapat berkembang sama sekali dan memicu kegagalan panen.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus menerapkan kombinasi penanaman tanaman perangkap seperti sawi di sekeliling bedengan, penggunaan agens hayati Bacillus thuringiensis, serta rotasi tanaman dengan jagung atau kentang setiap 1 hingga 2 musim tanam. Penggunaan pestisida sintetis hendaknya menjadi langkah terakhir dengan mengonsultasikan jenis bahan aktif ke BPP setempat.






