Untuk mengatasi cekaman lingkungan selama musim kemarau, tingkatkan frekuensi penyiraman menjadi dua kali sehari, yaitu pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00 dan sore hari pukul 15.30 hingga 17.00. Berikan volume air sekitar 500 ml hingga 1 liter per tanaman secara merata di area perakaran. Penutupan guludan menggunakan mulsa jerami padi setebal 5 hingga 10 cm atau mulsa plastik hitam perak sangat efektif menekan penguapan air tanah dan menjaga suhu perakaran tetap stabil.
Aspek pemupukan juga memegang peranan krusial dalam memulihkan kelainan struktur daun. Aplikasikan pupuk organik matang sebanyak 2 hingga 3 kg per meter persegi saat pengolahan tanah dan penuhi kebutuhan kalsium untuk memperkuat dinding sel tanaman. Kekurangan kalsium saat laju transpirasi tinggi di musim kemarau sering kali menyebabkan ujung daun muda melengkung keriting dan mengalami gejala tip burn atau gosong ujung.
Pengendalian hama secara terpadu harus dilakukan sejak dini sebelum krop kubis terbentuk sempurna. Pasang perangkap kuning berperekat sebanyak 15 hingga 20 unit per hektar untuk memantau populasi kutu daun dan thrips. Semprotkan agens hayati atau ekstrak nabati berbahan dasar daun mimba atau bawang putih dengan interval 3 hingga 5 hari sekali, serta pangkas bagian daun yang terinfeksi parah agar tidak menular ke tanaman sehat lainnya.






