Penyebab utama yang paling sering ditemui saat musim kemarau adalah kekeringan tanah dan defisiensi unsur hara Nitrogen (N). Tanaman brokoli membutuhkan penyiraman teratur sebanyak 1-2 liter per tanaman setiap pagi pukul 06.00-08.00 WIB untuk menjaga kelembapan tanah pada kisaran 60-70 persen. Jika kebutuhan air ini tidak terpenuhi, penyerapan pupuk susulan yang diberikan interval 10-14 hari sekali akan terhambat, memicu klorosis atau pemucatan warna hijau daun dari daun bagian bawah menuju daun muda.
Selain faktor air dan nutrisi, serangan hama seperti kutu daun (Aphis gossypii) dan ulat krop (Crocidolomia pavonana) sangat masif berkembang pesat pada suhu udara di atas 28 derajat Celsius. Populasi hama ini dapat berlipat ganda dalam waktu 3-5 hari di musim kemarau, mengisap cairan sel daun hingga jaringan daun berubah menjadi kekuningan dan mengerut. Gejala ini sering memburuk jika jarak tanam terlalu rapat, yaitu kurang dari 50 cm x 60 cm, yang mempercepat penularan hama antar tanaman.
Untuk mengembalikan kebugaran tanaman brokoli yang mengalami daun kuning, petani perlu melakukan kombinasi penyiangan gulma, pengaturan jadwal irigasi curah atau kocor, serta pemupukan berimbang. Aplikasi pupuk organik cair dosis sedang dapat diberikan 1 kali sepekan bersamaan dengan pemulsaan jerami setebal 5-8 cm untuk menekan penguapan air tanah. Pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu pada pagi hari sangat dianjurkan agar serangan hama dan penyakit dapat terdeteksi sebelum merusak krop brokoli.






