Pada musim kemarau, serangan hama mengisap seperti thrips dan kutu daun justru lebih sering mendominasi area lahan terbuka. Pembudidaya perlu mengatur jarak tanam sekitar 20 x 20 sentimeter dan membersihkan gulma dalam radius 1 meter dari bedengan secara berkala setiap 14 hari sekali. Sanitasi lingkungan yang ketat terbukti mampu memutus siklus hidup hama merusak tanpa mengandalkan intervensi kimia berlebih.
Kerusakan pada rimpang kencur sering kali disebabkan oleh aktivitas larva kumbang atau nematoda yang menyerang di dalam tanah tanpa terlihat jelas dari permukaan. Gejala awal ditandai dengan daun yang menguning layu secara mendadak meskipun penyiraman dilakukan secara teratur 1 sampai 2 hari sekali. Pengolahan tanah yang sempurna dengan pembajakan sedalam 25 sentimeter sebelum tanam sangat efektif membongkar sarang kepompong hama tanah tersebut.
Langkah pencegahan terpadu dapat diperkuat dengan aplikasi bahan organik terdekomposisi sempurna sebanyak 10 sampai 15 ton per hektar saat pembuatan bedengan. Jika populasinya melampaui ambang ekonomi, lakukan penyemprotan agens hayati atau biopestisida seminggu sekali pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. Pendekatan ramah lingkungan ini menjaga kualitas rimpang kencur tetap aman dikonsumsi sebagai bahan jamu tradisional maupun bumbu dapur.






