Serangan hama pada kencur umumnya terbagi menjadi kelompok pemakan daun dan kelompok perusak rimpang di dalam tanah yang masing-masing meninggalkan jejak kerusakan khas. Pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan ulat atau kumbang secara manual pada pagi hari efektif menekan populasi awal di skala kecil. Selain itu, sanitasi gulma di sekitar rumpun kencur sangat penting karena rumput liar sering menjadi tempat persembunyian hama alternatif selama musim kemarau maupun penghujan. Penggunaan musuh alami seperti predator generalis di ekosistem sekitar perlu dijaga kelestariannya untuk menekan ledakan populasi hama secara alami.
Penerapan praktik budidaya yang sehat, seperti pemilihan bibit rimpang yang bebas dari lubang bekas galian hama dan pengolahan tanah secara sempurna sebelum tanam, mampu meminimalkan risiko serangan lanjutan. Pemberian pupuk organik yang matang sempurna juga memperkuat ketahanan dinding sel tanaman kencur terhadap tusukan atau gigitan serangga hama. Apabila populasi hama telah melampaui batas ambang ekonomi dan tindakan mekanis tidak lagi memadai, penggunaan pengendali hayati atau pestisida nabati dapat diaplikasikan. Pastikan untuk selalu membaca petunjuk pada label kemasan jika terpaksa menggunakan bahan kimia buatan pabrik demi keselamatan lingkungan.
Koordinasi aktif dengan petugas penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluhan Pertanian setempat sangat dianjurkan apabila petani menghadapi kendala serangan hama yang tidak kunjung teratasi. Penyuluh dapat membantu mengidentifikasi jenis hama secara akurat dan merekomendasikan taktik rotasi tanaman atau penggunaan varietas yang lebih toleran. Dengan kedisiplinan dalam melakukan pemantauan rutin setiap minggu, kesehatan tanaman kencur dapat terjaga dengan baik sepanjang tahun dari Sabang sampai Merauke. Ketekunan dalam merawat kebun adalah investasi terbaik untuk mendapatkan panen rimpang kencur yang bersih dan bernilai jual tinggi.