Memasuki fase pembentukan anakan pada usia 4 hingga 6 bulan setelah tanam, kebutuhan nutrisi tanaman jahe bergeser ke arah unsur hara fosfor dan kalium yang lebih tinggi untuk merangsang pembelahan sel dan memperbanyak jumlah anakan produktif. Pada periode ini, frekuensi pemupukan susulan dilakukan setiap bulan dengan cara dibenamkan di sekitar perakaran pada alur melingkar sejauh 15 sentimeter dari batang utama, kemudian ditutup tipis dengan tanah agar tidak menguap akibat terik matahari tropis. Penyiangan gulma wajib dikerjakan sebelum pemupukan susulan dilakukan agar nutrisi yang diberikan tidak direbut oleh tanaman pengganggu.
Menjelang fase pembesaran rimpang pada usia 7 hingga 9 bulan setelah tanam, aplikasi unsur kalium memegang peranan paling krusial guna memperbesar ukuran rimpang, meningkatkan bobot kering, serta memperbaiki kualitas rasa dan aroma rempah. Petani dianjurkan mengurangi porsi unsur nitrogen secara drastis pada fase ini agar tanaman tidak terfokus pada pertumbuhan daun baru yang justru menguras cadangan energi rimpang. Pemberian pupuk tambahan yang kaya fosfor dan kalium diberikan dua kali pada periode ini, dibarengi dengan pembumbunan atau penutupan pangkal batang menggunakan tanah gembur setinggi 5 hingga 10 sentimeter untuk mencegah rimpang muncul ke permukaan dan menghijau akibat sinar matahari.
Penerapan teknik pemupukan jahe yang ideal juga harus memperhatikan kondisi iklim mikro di lahan budidaya, terutama perbedaan penanganan antara musim kemarau dan musim hujan di berbagai wilayah Indonesia. Saat musim kemarau, pemupukan wajib disertai penyiraman air yang cukup sehari sebelumnya agar akar tanaman tidak terbakar oleh kepekatan unsur hara, sementara pada puncak musim hujan diaplikasikan sistem drainase parit yang baik untuk mencegah pencucian pupuk dan pembusukan rimpang. Evaluasi tingkat kesuburan tanah secara berkala melalui pengamatan visual warna daun dan vigor tanaman akan membantu pekebun menentukan penyesuaian dosis yang paling efisien.