Serangan layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum menjadi ancaman paling mematikan pada tanaman jahe. Gejalanya ditandai dengan daun yang menggulung, menguning cepat, lalu layu basah dalam waktu 3 sampai 5 hari, disertai rimpang yang membusuk dan mengeluarkan aroma menyengat serta lendir putih saat dipotong. Sebaliknya, layu fusarium akibat infeksi jamur menunjukkan gejala pemikunan daun dari tepi luar menuju tulang daun secara bertahap, dengan bagian dalam rimpang memperlihatkan cincin kecokelatan tanpa cairan berbau busuk.
Di luar faktor penyakit, musim kemarau yang terik sering kali memicu kekeringan dan defisiensi hara nitrogen pada lahan jahe. Kurangnya pasokan air menyebabkan daun jahe menguning pucat secara merata dan pertumbuhan terhenti. Untuk mengatasi kondisi ini, pekebun wajib memberikan penyiraman teratur sebanyak 1 sampai 2 liter air per rumpun setiap pagi atau sore hari, serta mengaplikasikan mulsa jerami padi setebal 5 cm di atas permukaan tanah untuk menjaga kelembapan mikro.
Pencegahan dan pengendalian terpadu harus segera diterapkan begitu diagnosis ditegakkan di lapangan. Untuk infeksi layu bakteri atau fusarium, langkah terbaik adalah mencabut seluruh rumpun sakit dan membakarnya jauh dari area tanam guna mencegah penularan sporadis. Aplikasi agens hayati seperti jamur Trichoderma sp. atau bakteri Pseudomonas fluorescens sebanyak 200 ml larutan per lubang tanam setiap 2 minggu sekali sangat efektif menekan perkembangan patogen tular tanah secara berkelanjutan.






