Langkah awal penanganan teh layu adalah mendiagnosis apakah kelayuan disebabkan oleh stres air murni atau serangan patogen akar. Stres air akibat kemarau ditandai dengan seluas blok kebun yang layu secara serentak pada siang hari dan sedikit segar di pagi hari. Sebaliknya, jika tanaman layu secara sporadis per individu tanaman dan daun tetap melekat layu meski malam hari, kemungkinan besar terdapat infeksi jamur akar merah (Ganoderma philippii) atau jamur akar hitam (Rosellinia arcuata).
Untuk mengatasi kelembapan tanah yang memburuk, petani disarankan mengaplikasikan mulsa organik setebal 5 hingga 10 cm di sekeliling piringan tanaman teh. Penutup tanah ini mampu menekan penguapan air tanah hingga 40 persen selama bulan kemarau. Selain itu, kerapatan pohon naungan seperti lamtoro atau sengon perlu dijaga pada kisaran 100 hingga 150 pohon per hektar untuk menyaring intensitas sinar matahari terik tanpa memperebutkan unsur hara.
Pemulihan tanaman teh yang mengalami kelayuan harus dilakukan secara bertahap tanpa tindakan drastis seperti pemangkasan berat di pertengahan kemarau. Pengaplikasian pupuk kompos matang sebanyak 10 hingga 15 kg per gugus tanaman pada awal musim hujan mendatang akan memperbaiki struktur pori tanah. Lakukan inspeksi kebun rutin 2 kali seminggu untuk memantau perkembangan kesehatan perakaran dan kelembapan lapisan atas tanah setinggi 20 cm.






