Penyebab pertama yang paling sering ditemui di lapangan adalah stres kekeringan akibat kurangnya curah hujan dan tidak adanya sistem irigasi tetes yang memadai di areal perkebunan. Tanaman teh memerlukan pasokan air sekitar 1500 hingga 2000 milimeter per tahun yang terdistribusi secara merata. Pada tanah berpasir atau lahan miring tanpa terasering yang baik, air hujan akan cepat mengalir pergi, menyebabkan dehidrasi cepat pada tanaman teh muda maupun teh produktif yang berusia di atas 5 tahun.
Penyebab kedua yang harus diwaspadai adalah penyakit busuk akar yang dipicu oleh jamur tular tanah seperti Ganoderma atau Phellinus, terutama pada lahan bekas hutan atau kebun tua yang tidak dibersihkan dengan baik. Jamur ini menyerang jaringan kayu akar tunggang dan akar lateral, menghambat transportasi air dan nutrisi dari tanah ke tajuk daun. Daun teh akan berubah warna menjadi kusam, menggulung, lalu layu secara perlahan mulai dari satu sisi tajuk hingga seluruh tanaman mati dalam waktu beberapa minggu.
Untuk mengatasi masalah teh layu secara efektif, lakukan diagnosis lapangan dengan mencabut atau menggali sampel akar tanaman yang menunjukkan gejala awal. Jika akar tampak cokelat kehitaman, basah, dan berbau busuk, lakukan tindakan sanitasi dengan mencabut tanaman sakit dan menaburkan kapur pertanian pada lubang tanam. Sementara itu, untuk mengatasi layu karena kekeringan, segera lakukan penyiraman intensif sebanyak dua kali seminggu pada pagi hari serta aplikasikan mulsa organik setebal 10 sentimeter di piringan tanaman untuk menekan penguapan air tanah.