Defisiensi hara makro seperti Nitrogen (N) dan Magnesium (Mg) menjadi pemicu utama klorosis pada kebun teh dengan derajat keasaman (pH) tanah di luar kisaran ideal 4,5 hingga 5,5. Pada kondisi hara kurang, aplikasi bahan organik seperti kompos kotoran ternak sebanyak 2 hingga 3 kilogram per rumpun tanaman setiap 6 bulan sekali sangat dianjurkan. Penambahan pupuk anorganik yang kaya unsur N dan Mg perlu dilakukan secara teratur sebanyak 3 hingga 4 kali dalam setahun sesuai rekomendasi analisis tanah setempat.
Cekaman air di musim kemarau memperparah kerusakan jaringan daun teh karena penguapan berlebih tanpa ditunjang kelembapan tanah yang cukup. Penggunaan mulsa organik dari pangkasan rumput atau sisa ranting setebal 5 hingga 10 sentimeter di sekeliling piringan tanaman membantu menjaga kelembapan tanah hingga 30 persen lebih lama. Selain itu, pengaturan pohon pelindung seperti gamal atau sengon dengan jarak tanam 8x8 meter perlu dikelola agar pangkasannya tidak terlalu tipis saat kemarau tiba.
Populasi hama tungau merah (Oligonychus coffeae) biasanya melonjak drastis saat suhu udara meningkat dan kelembapan menurun di musim kemarau, menyebabkan daun teh tampak kuning kusam keperakan. Pengamatan kebun secara berkala setiap 7 hingga 10 hari sekali sangat penting untuk mendeteksi serangan sejak dini. Jika penguningan disebabkan oleh infeksi jamur akar, pemusnahan tanaman terserang dan pengapuran tanah bekas pembongkaran wajib dilakukan untuk mencegah penularan ke rumpun sekitarnya.





