Defisit air yang parah memicu akumulasi daun tombak yang tidak membuka hingga 3 sampai 5 helai per pokok karena tekanan turgor sel tanaman menurun secara drastis. Penurunan kelembapan tanah di bawah 40 persen kapasitas lapang ini berdampak langsung pada penurunan efisiensi fotosintesis dan berisiko menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) hingga 15 sampai 30 persen pada periode panen 10 hingga 12 bulan berikutnya.
Selain stres iklim, layu pada kelapa sawit juga disulut oleh infeksi penyakit pembuluh vaskular seperti layu Fusarium (Fusarium oxysporum) dan busuk pangkal batang (Ganoderma boninense). Diagnosis pembeda dapat dilakukan dengan memotong sampel pelepah nomor 17, di mana jika ditemukan garis cokelat kekuningan pada berkas pengangkut atau terdapat badan buah jamur berbentuk kipas di pangkal batang, maka penyebab utamanya adalah agen penyakit, bukan sekadar kekurangan air.
Penanganan layu akibat kekeringan memerlukan aplikasi mulsa janjang kosong sebanyak 200 hingga 250 kg per pokok per tahun yang ditebar merata di piringan radius 2 meter dari batang. Sementara itu, untuk kasus infeksi patogen, tindakan saniter seperti pembumbunan pangkal batang setinggi 30 cm dan pembuatan parit isolasi sekeliling tanaman terinfeksi seluas 4x4 meter wajib dilakukan guna menekan penularan ke tanaman sehat sekitarnya.






