Penyebab pertama yang paling sering ditemukan adalah kekeringan ekstrem akibat rendahnya curah hujan selama tiga hingga enam bulan berturut-turut di areal perkebunan. Tanaman sawit memerlukan pasokan air sekitar 150 hingga 200 milimeter per bulan untuk menjaga proses fisiologisnya tetap normal. Ketika cadangan air di dalam tanah habis, daun tua mulai terkulai, mengering dari ujung, dan pelepah melengkung ke bawah membentuk rok di sekeliling batang.
Selain faktor iklim, serangan organisme pengganggu tumbuhan seperti jamur akar putih atau penyakit fusarium wilt kerap menjadi momok menakutkan bagi pekebun sawit. Patogen ini menyerang sistem perakaran secara diam-diam, menyumbat jaringan pembuluh kayu, sehingga pasokan air dan nutrisi dari tanah gagal diangkut ke tajuk atas tanaman. Gejalanya mirip dengan stres kekeringan, namun sering kali hanya menyerang beberapa pokok tanaman secara acak tanpa memperdulikan kelembapan tanah di sekitarnya.
Langkah pemulihan harus segera diambil begitu diagnosis penyebab layu dapat dipastikan oleh pekebun di lapangan. Pemupukan berimbang dengan dosis tepat sesuai umur tanaman dan pemeliharaan piringan pohon harus dilakukan secara rutin untuk menjaga vigor tanaman. Apabila menemukan gejala serangan penyakit tular tanah, tindakan sanitasi ketat dengan membongkar dan memusnahkan tanaman sakit wajib dilakukan agar penularan tidak meluas ke pokok sawit yang masih sehat di sekitarnya.