Untuk mengatasi layu akibat cekaman air, pembuatan piringan bersih dan penambahan mulsa organik setebal 10 hingga 15 cm di sekeliling pangkal batang sejauh radius 1 meter sangat dianjurkan. Pembagian mulsa dari limbah pangkasan rumput atau serasah daun dapat menjaga kelembapan tanah hingga 2 hingga 3 minggu lebih lama dibandingkan tanah terbuka. Langkah konservasi air tanah ini membantu sistem perakaran tetap menyerap kelembapan tersisa di kedalaman tanah.
Selain faktor cuaca, layu pada tanaman karet sering disebabkan oleh Jamur Akar Putih (JAP) yang serangannya semakin ganas ketika tanaman dalam kondisi lemah. Pemeriksaan leher akar secara berkala setiap 3 bulan sekali menjadi prosedur wajib di perkebunan. Apabila ditemukan benang-benang putih miselium, leher akar harus dibuka dan diolesi agens hayati penekan jamur seperti Trichoderma sebanyak 100 hingga 200 gram per pohon pada area piringan.
Manajemen penyadapan juga harus disesuaikan selama periode kekeringan untuk mencegah kelayuan yang makin parah. Penurunan frekuensi sadur dari sistem dua hari sekali menjadi empat hari sekali, atau bahkan mengistirahatkan saduran total selama 1 hingga 2 bulan saat kemarau ekstrem, sangat penting dilakukan. Langkah ini mencegah stres ganda pada pembuluh lateks dan menjaga kelangsungan hidup pohon karet dalam jangka panjang.






