Pemeriksaan awal harus dilakukan dengan menggali tanah di sekitar perakaran hingga kedalaman 20 sampai 40 sentimeter untuk menguji kelembapan substrat. Amati pula apakah layu terjadi secara serentak pada satu blok kebun atau hanya menimpa tanaman secara acak. Gejala yang menyerang tanaman secara acak dalam satu barisan biasanya menandakan gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada bagian akar atau batang bawah.
Tindakan darurat untuk menyelamatkan tanaman yang layu akibat cekaman air adalah pemberian air sebanyka 20 sampai 30 liter per pohon setiap 5 hingga 7 hari sekali. Aplikasi mulsa organik dari sisa pangkasan atau jerami setebal 10 hingga 15 cm di sekeliling piringan tanaman sangat efektif menekan penguapan tanah. Penataan pohon pelindung seperti lamtoro atau sengon dengan jarak tanam 4x4 meter juga membantu menjaga mikroiklim kebun tetap lembap.
Untuk jangka panjang, pengelolaan kebun kopi saat kemarau perlu ditunjang dengan pembuatan lubang rorak berukuran panjang 200 cm, lebar 40 cm, dan kedalaman 40 cm di antara barisan tanaman. Rorak ini berfungsi menampung sisa kelembapan dan bahan organik. Aplikasi mikroba antagonis seperti Trichoderma sp. pada akhir musim hujan sangat dianjurkan untuk membentengi akar dari infeksi patogen tanah sebelum kekeringan melanda.






