Penyebab pertama adalah jamur Ganoderma spp., yang sering menyerang tanaman teh tua (di atas 10 tahun) pada lahan dengan drainase buruk. Ciri khasnya: akar bagian pangkal berwarna coklat gelap, terdapat rizomorf putih di permukaan akar, dan tubuh buah (konk) seperti kipas tumbuh di pangkal batang. Jamur ini menyebar melalui kontak akar dengan sisa tanaman terinfeksi. Solusinya: sanitasi lahan dengan membongkar dan membakar tanaman sakit, memperbaiki drainase, dan menanam varietas tahan (misal GMB 7).
Penyebab kedua adalah jamur Armillaria spp., yang juga menyerang teh dewasa. Ciri pembeda: akar memiliki miselium putih seperti kipas di bawah kulit akar, dan di malam hari dapat ditemukan jamur berwarna madu (honey mushroom) di pangkal batang. Patogen ini bertahan lama di tunggul kayu. Pengendalian meliputi eradikasi sisa akar, drainase, dan aplikasi Trichoderma spp. sebagai agen hayati. Hindari menanam teh di lahan bekas hutan yang baru dibuka tanpa pengolahan tanah intensif.
Penyebab ketiga adalah jamur Pythium spp., yang lebih sering menyerang bibit teh di persemaian atau tanaman muda (1-2 tahun) saat musim hujan dengan kelembaban tinggi. Ciri khas: akar menjadi bening seperti basah, lembek, dan mudah putus; tidak ada miselium atau tubuh buah. Penyakit ini menyebar cepat melalui air irigasi atau percikan hujan. Solusinya: gunakan media tanam steril, atur jarak tanam agar sirkulasi udara baik, kurangi penyiraman berlebih, dan aplikasi fungisida berbahan aktif metalaksil atau fosetil-Al sesuai dosis anjuran. Konsultasi dengan penyuluh BPP setempat untuk rekomendasi fungisida spesifik.