Penyebab paling umum adalah kekurangan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan magnesium (Mg). Daun yang menguning akibat defisiensi N dimulai dari daun tua, merata, dan diikuti pertumbuhan terhambat. Defisiensi Mg menunjukkan gejala bercak kuning di antara tulang daun (interveinal chlorosis) pada daun tua. Solusinya adalah pemupukan berimbang menggunakan pupuk organik (kompos 10-20 kg/pohon/tahun) dan pupuk anorganik seperti urea (0,5-1 kg/pohon/tahun) atau dolomit (1-2 kg/pohon/tahun) untuk Mg, sesuai rekomendasi BPP setempat.
Penyebab kedua adalah serangan hama penggerek batang (Oryctes rhinoceros) atau kutu putih (Planococcus sp.). Hama penggerek menyebabkan daun muda menguning, layu, dan berlubang, serta terdapat serbuk gerek di pangkal pelepah. Kutu putih menimbulkan daun kuning kusam, lengket, dan diikuti jamur jelaga. Pengendalian dilakukan secara mekanis (memotong dan membakar pelepah terserang) dan biologis (melepas musuh alami seperti kumbang Metarrhizium atau predator kutu), bukan dengan pestisida kimia kecuali atas anjuran penyuluh.
Penyebab ketiga adalah penyakit busuk pangkal batang (Ganoderma boninense) atau layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Ganoderma ditandai daun menguning, layu, dan muncul tubuh buah jamur berwarna cokelat kemerahan di pangkal batang. Layu bakteri menyebabkan daun menguning mendadak, layu, dan jika batang dipotong keluar lendir bakteri. Tidak ada obat kimia untuk penyakit ini; tindakan pencegahan seperti drainase baik, sanitasi lahan, dan penggunaan bibit sehat sangat penting. Pohon terserang berat sebaiknya dimusnahkan untuk mencegah penularan.