Kelapa Sawit, Penyebab Akar Kelapa Sawit Busuk di Musim Hujan dan Cara Mengatasinya
Kawê Rodrigues / Pexels

Penyebab Akar Kelapa Sawit Busuk di Musim Hujan dan Cara Mengatasinya

Busuk akar kelapa sawit umumnya disebabkan oleh genangan air akibat drainase buruk atau serangan jamur patogen saat curah hujan tinggi.

Jawaban singkat

Musim hujan dengan intensitas tinggi melebihi tiga ratus milimeter per bulan sering kali memicu penumpukan air berlebih di area piringan kelapa sawit, khususnya pada jenis tanah gambut dan liat berat di Sumatera serta Kalimantan. Kondisi tanah yang tergenang secara terus-menerus selama lebih dari tujuh hari dapat menghentikan suplai oksigen ke jaringan akar halus. Akibatnya, akar kehilangan kemampuan respirasi, membusuk, dan membuka celah bagi serangan organisme patogen tanah.

Ringkas: Kelapa Sawit

Cahaya
Cahaya penuh (minimal 5 jam sinar matahari langsung per hari)
Penyiraman
Butuh curah hujan 1500-2500 mm/tahun; genangan air tidak boleh lebih dari 3 hari
Musim
Sepanjang tahun, tanam awal musim hujan (Oktober-Desember)
Tingkat Kesulitan
Sedang

Pemeliharaan intensif pada 3 tahun pertama sangat menentukan produktivitas selanjutnya.

Gejala awal pembusukan akar dapat teramati pada bagian tajuk tanaman, di mana pelepah bagian bawah menguning dan patah menggantung di sekitar batang hingga tiga sampai lima tingkat pelepah. Pembentukan tandan buah segar juga mengalami penurunan drastis, dengan ukuran janjang yang memungut air lebih sedikit sehingga bobotnya menyusut hingga tiga puluh persen. Jika piringan digali sejauh lima puluh sentimeter dari pangkal batang, akar serabut terlihat berwarna hitam lunak dan berbau membusuk.

Pengelolaan sistem drainase merupakan langkah vital untuk mengendalikan pembusukan akar di perkebunan sawit. Pembuatan parit sekunder dengan kedalaman satu koma dua hingga satu koma lima meter serta parit cacing di antara dua barisan tanaman harus dibersihkan dari endapan lumpur minimal dua kali dalam setahun, yakni menjelang puncak musim hujan. Selain itu, penimbunan pangkal batang atau pembumbunan setinggi dua puluh sentimeter membantu merangsang pertambahan akar baru yang sehat.

Pengendalian penyakit berbasis hayati dianjurkan menggunakan jamur antagonis seperti Trichoderma spp. yang diaplikasikan sebanyak seratus lima puluh hingga dua ratus gram per pohon setiap enam bulan sekali. Pemberian bahan organik ini sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan saat kelembaban tanah optimal agar mikroorganisme menguntungkan dapat berkembang pesat dan menekan populasi patogen tular tanah secara alami.

Penyebab & Cara Mengatasi

Drainase Buruk dan Genangan Air (Anoksia)

Ciri: Akar berwarna hitam lunak berbau busuk, tidak ditemukan benjolan atau badan buah jamur, pelepah terkulai serentak saat curah hujan tinggi.

Solusi: Perbaiki saluran drainase, dalamkan parit cacing hingga 60 cm, dan buat gundukan tanah di sekeliling piringan.

Infeksi Jamur Ganoderma boninense

Ciri: Terdapat badan buah berbentuk kipas keras bernuansa cokelat di pangkal batang, miselium putih di jaringan akar, pelepah tua patah menggantung.

Solusi: Sanitasi pembongkaran tunggul infeksi, buat parit isolasi ukuran 4x4 meter dengan dalam 1 meter, serta tabur agens hayati Trichoderma.

Serangan Jamur Pythium atau Phytophthora

Ciri: Akar muda dan akar serabut hancur mengelupas, daun pupus muda pucat dan melengkung, terjadi terutama di pembibitan atau tanaman muda.

Solusi: Tingkatkan aerasi media tanam, kurangi frekuensi penyiraman atau genangan, dan aplikasikan pupuk hayati penguat akar.

Langkah-langkah

  1. Lakukan pemeriksaan rutin pada piringan dan sistem akar tanaman yang menunjukkan gejala pelepah menguning.
  2. Buat atau bersihkan parit drainase sekunder dan parit cacing agar air hujan mengalir lancar dan tidak menggenangi piringan.
  3. Lakukan pembumbunan dengan penambahan tanah subur setinggi 15 hingga 20 cm di sekitar pangkal batang untuk memicu pertumbuhan akar baru.
  4. Taburkan agens hayati Trichoderma spp. pada piringan melingkar sejauh 1 hingga 2 meter dari batang saat kondisi tanah lembab.
  5. Isolasi tanaman yang terinfeksi patogen berat dengan membuat parit isolasi sedalam 1 meter di sekeliling pohon.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah akar kelapa sawit yang membusuk bisa pulih kembali?

Bisa, asalkan pembusukan belum mencapai pangkal batang utama dan drainase segera diperbaiki disertai pemberian agens hayati untuk merangsang akar baru.

Bagaimana membedakan busuk akar karena air dan karena Ganoderma?

Busuk akar akibat air tidak menghasilkan badan buah keras berbentuk kipas di pangkal batang, sedangkan serangan Ganoderma ditandai adanya badan buah cokelat kayu dan benang miselium putih.

Berapa kedalaman parit drainase yang ideal di lahan sawit?

Parit utama atau primer idealnya sedalam 2 meter, parit sekunder 1,2 hingga 1,5 meter, dan parit cacing di antara barisan tanaman sedalam 50 hingga 60 cm.

Kapan waktu terbaik mengaplikasikan Trichoderma pada sawit?

Awal hingga pertengahan musim hujan, saat tanah dalam kondisi lembab tetapi tidak tergenang air.

Lebih lanjut tentang Kelapa Sawit

Panduan terkait

Busuk Akar, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.