Untuk menentukan penanganan yang tepat, para petani perlu melakukan diagnosis diferensial guna membedakan penyebab layu fisik dan biologis. Jika tanaman layu secara seragam di seluruh petak tanah yang retak, masalah utamanya adalah kekurangan air. Namun, jika tebu layu secara sporadis atau berkelompok meski kelembapan tanah mencukupi, kemungkinan besar disebabkan oleh infeksi jamur Fusarium sacchari atau serangan hama uret tanah yang menggerogoti perakaran utama.
Pengelolaan air dan tanah yang efektif menjadi kunci utama mengatasi kecenderungan tebu layu di musim kemarau. Pemberian air irigasi berkala setiap 10 hingga 14 hari sekali melalui saluran bumbunan sangat dianjurkan untuk menjaga kelembapan akar. Selain itu, penutupan permukaan tanah menggunakan mulsa serasah daun tebu kering (kleting) setebal 5 hingga 10 cm mampu menekan penguapan air tanah dan menjaga suhu perakaran tetap stabil.
Apabila gejalanya disebabkan oleh agen hayati atau patogen tanah, pembersihan sanitasi kebun harus segera dilakukan sebelum masa tanam berikutnya. Hindari penggunaan bibit tebu dari tunggul yang pernah terinfeksi dan lakukan pengolahan tanah secara sempurna dengan pembalikan tanah sejauh 30 cm untuk memapar hama uret ke sinar matahari. Selalu konsultasikan dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat untuk mendapatkan panduan penanganan hayati atau teknis yang aman dan terintegrasi.






