Musim kemarau panjang atau transisi ke musim hujan biasanya menjadi periode rawan di mana beberapa jenis hama penggerek batang dan uret akar meningkatkan aktivitas perusakannya. Penggerek batang aktif menyerang titik tumbuh dan ruas tebu muda, sementara uret merusak akar di dalam tanah, menyebabkan tanaman mudah roboh saat diterpa angin kencang. Pemahaman mendalam mengenai siklus hidup dan karakteristik serangan setiap hama menjadi kunci utama dalam merumuskan strategi pengendalian yang efektif dan efisien.
Pendekatan pengendalian hama terpadu sangat dianjurkan untuk diterapkan di lahan tebu nusantara, mulai dari pemilihan bibit sehat, sanitasi gulma di sekitar rumpun, hingga pemanfaatan musuh alami di alam. Penggunaan perangkap feromon atau lampu petak kuning dapat membantu memantau dan menekan populasi ngengat dewasa sebelum meletakkan telur pada daun tebu. Pemupukan berimbang, terutama menghindari kelebihan nitrogen, juga terbukti membuat jaringan tanaman lebih kuat terhadap tusukan atau gigitan hama penusuk dan pengisap.
Apabila serangan hama telah melampaui ambang batas ekonomi dan merugikan secara masif, tindakan kuratif dapat dipertimbangkan dengan tetap mengutamakan prinsip kelestarian lingkungan dan keselamatan kerja. Petani senantiasa diingatkan untuk membaca label dengan teliti pada kemasan pengendali kimiawi resmi dan berkonsultasi langsung dengan petugas penyuluh pertanian lapangan atau BPP setempat. Dengan kerja sama yang baik antara petani dan tenaga teknis, kesehatan kebun tebu dapat terjaga sepanjang tahun demi hasil produksi yang optimal.