Penyebab utama adalah jamur Fusarium moniliforme dan Rhizoctonia solani. Jamur ini bertahan di sisa-sisa tanaman dan tanah, menyebar melalui air irigasi atau hujan. Kondisi tanah tergenang, pH rendah (<5,5), dan kekurangan kalium memperparah serangan. Pada lahan bekas tebu terus-menerus, risiko lebih tinggi karena inokulum menumpuk.
Pengendalian dimulai dari persiapan lahan: buat saluran drainase sedalam 50 cm setiap 4 meter, dan naikkan pH tanah dengan pengapuran (dolomit) 1-2 ton/ha jika pH <5,5. Gunakan bibit sehat (stek dari kebun bebas penyakit) dan rendam stek dalam larutan fungisida berbahan aktif benomil atau karbendazim sesuai dosis label sebelum tanam. Tanam di musim kemarau awal (April-Mei) untuk menghindari hujan deras.
Rotasi tanaman dengan kacang tanah atau jagung selama 1-2 musim dapat memutus siklus jamur. Saat pemeliharaan, hindari irigasi berlebihan dan beri pupuk kalium (KCl) 200 kg/ha untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Cabut dan bakar tanaman sakit segera, jangan ditumpuk di lahan. Jika serangan meluas, konsultasikan dengan BPP setempat untuk rekomendasi fungisida spesifik.