Pada musim kemarau, faktor pembatas utama pertumbuhan tebu adalah cekaman kekeringan akibat curah hujan yang minim dan sistem irigasi yang belum optimal. Tanaman yang mengalami dehidrasi akan merespons dengan menghentikan pertumbuhan vegetatif, memicu klorosis pada daun tua, dan mengering mulai dari bagian tepi. Petani perlu memeriksa kelembapan tanah hingga kedalaman tiga puluh sentimeter untuk memastikan apakah akar masih mendapatkan pasokan air yang cukup.
Selain faktor kekeringan, gejala daun menguning juga sering kali menjadi indikator awal adanya gangguan organisme pengganggu tumbuhan seperti hama penggerek batang atau serangan penyakit sistemik. Hama yang merusak jaringan pembuluh di dalam batang akan memutus suplai air dan nutrisi ke daun bagian atas, sehingga daun menunjukkan gejala kuning layu yang khas. Pemeriksaan fisik pada batang dan pelepah daun sangat dianjurkan untuk menemukan lubang liang gerek atau gejala sekunder lainnya.
Langkah penanganan yang tepat harus segera diambil berdasarkan hasil diagnosis diferensial di lapangan, mulai dari perbaikan sistem pengairan darurat hingga pemupukan berimbang. Apabila gejala terus meluas meskipun pasokan air telah tercukupi, petani disarankan untuk mengambil sampel tanaman dan berkonsultasi langsung dengan petugas penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluhan Pertanian setempat. Penanganan yang cepat dan terpadu akan memulihkan kesehatan tanaman tebu dan menjaga produktivitas perkebunan.