Secara umum, kuningnya daun sawit dipicu oleh ketidakseimbangan nutrisi hara makro seperti Nitrogen, Magnesium, dan Kalium, serta terbatasnya kelembaban tanah. Pada kondisi kemarau tajam, akar efektif di kedalaman 0 sampai 30 cm kesulitan menyerap pupuk yang telah ditabur. Tanaman terpaksa merelokasi nutrisi dari pelepah tua ke pelepah muda, sehingga pelepah bagian bawah bertahap berubah warna dari hijau segar menjadi kuning pucat atau oranye keemasan.
Untuk mengatasi gejala ini, pekebun perlu menerapkan aplikasi bahan organik seperti mulsa tandan kosong (tankos) dengan dosis 200 hingga 300 kg per pohon per tahun di sekeliling piringan. Penggunaan tankos sangat efektif menjaga kelembaban tanah piringan radius 1,5 hingga 2 meter dari batang, sekaligus menyuplai hara perlahan. Pembuatan rorak ukuran 2x0,5x0,5 meter di gawangan mati juga membantu menampung sisa air hujan dan mempercepat pemulihan sistem perakaran.
Langkah penanganan pemupukan perbaikan harus didasarkan pada hasil uji analisis daun (Leaf Sampling Unit/LSU) yang idealnya dilakukan 1 kali setiap tahun. Pemupukan korektif dilakukan saat kelembaban tanah mulai membaik dengan membagi dosis tahunan menjadi 2 hingga 3 kali aplikasi. Dengan kombinasi sanitasi pelepah yang teratur dan pemupukan presisi, warna hijau pelepah sawit umumnya dapat pulih kembali dalam waktu 4 hingga 8 bulan.





