Pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) umur 0 hingga 36 bulan, pemupukan difokuskan untuk memicu pertumbuhan akar, batang, dan pembentukan tajuk yang kokoh. Frekuensi pemupukan dilakukan 3 hingga 4 kali dalam setahun dengan dosis yang bertahap. Pada tahun pertama, berikan sekitar 0,25 kg Urea, 0,25 kg SP-36, dan 0,2 kg KCl per pohon yang dibagi dalam beberapa aplikasi, lalu tingkatkan secara bertahap hingga 1,0 hingga 1,5 kg per jenis pupuk per pohon per tahun pada tahun ketiga. Aplikasi pupuk TBM dilakukan dengan menabur merata di piringan bersih dengan radius 50 hingga 150 cm dari pangkal batang.
Memasuki fase Tanaman Menghasilkan (TM) atau umur di atas 3 tahun, kebutuhan hara bergeser pada peningkatan bobot Tandan Buah Segar (TBS) dan pembentukan bunga. Pupuk difokuskan pada hara Kalium (K) dan Nitrogen (N), diselingi Magnesium (Mg) dan Fosfor (P). Dosis tahunan rata-rata untuk sawit TM berkisar antara 2,0 hingga 2,5 kg Urea, 1,5 hingga 2,0 kg Rock Phosphate, 2,5 hingga 3,0 kg KCl, dan 1,0 hingga 1,5 kg Kieserit per pohon. Aplikasi dilakukan 2 kali setahun pada piringan luar atau proyeksi tajuk daun dengan radius 2 hingga 3 meter dari batang, tempat keberadaan akar rambut aktif.
Selain hara makro, tanaman sawit pada fase TM juga memerlukan unsur hara mikro seperti Boron dengan dosis 0,05 hingga 0,1 kg per pohon per tahun yang ditabur di ketiak pelepah atau piringan dekat batang. Untuk meningkatkan efisiensi pemupukan kimia, kombinasikan dengan pemberian janjang kosong (jangkos) sebanyak 200 hingga 300 kg per pohon per tahun sebagai penutup tanah dan sumber bahan organik. Praktik ini sangat membantu menjaga kelembapan tanah di musim kemarau serta memperbaiki struktur tanah secara berkelanjutan.





