Ulat pemakan daun sawit, seperti ulat api dan ulat kantung, sering meluas saat memasuki awal musim kemarau ketika kelembapan udara menurun. Jika populasi larva melebihi ambang kritis lima hingga sepuluh ekor per pelepah, tanaman dapat kehilangan hingga 50 persen tajuk daun dalam waktu tiga minggu. Pengendalian biologis dilakukan dengan menanam tanaman bermanfaat seperti Turnera subulata di sepanjang jalan sarana untuk memicu berkembangnya predator alami.
Pada areal peremajaan atau TBM umur satu hingga tiga tahun, kumbang tanduk Oryctes rhinoceros menjadi ancaman utama yang merusak janur atau daun tombak. Kumbang dewasa menggerek pupus muda sehingga daun yang terbuka tampak terpotong berbentuk segitiga runcing seperti kipas. Sanitasi lahan dari sisa batang lapuk serta pemasangan perangkap feromon sebanyak satu unit per dua hektar efektif menekan populasi kumbang ini tanpa mengganggu ekosistem.
Hama mamalia seperti tikus pohon merusak brondolan dan buah matang di piringan serta mahkota pohon, terutama pada puncak musim hujan saat pakan alami di luar kebun berkurang. Pemasangan satu unit rumah burung hantu Tyto alba untuk setiap lima hektar lahan terbukti menurunkan tingkat kerusakan buah akibat tikus hingga di bawah lima persen. Kombinasi sanitasi piringan bersih radius dua meter dari pangkal batang mempercepat penanganan hama secara berkelanjutan.





