Penyebab pertama adalah serangan kutu kebul (Bemisia tabaci) yang menularkan virus gemini (gemini virus). Ciri khasnya: daun muda keriting ke atas, ukuran daun mengecil, tulang daun menebal, dan tanaman kerdil. Virus ini ditularkan oleh kutu kebul yang aktif di musim kemarau. Solusi: kendalikan vektor dengan memasang perangkap kuning (10-15 per hektar), tanam tanaman perangkap seperti jagung di sekeliling lahan, dan cabut tanaman yang terinfeksi berat untuk mencegah penyebaran.
Penyebab kedua adalah serangan tungau (Tetranychus sp.). Ciri khasnya: daun keriting ke bawah, ada bercak kuning atau perak di permukaan daun, dan jika diperhatikan dengan kaca pembesar ada tungau kecil berwarna merah atau hijau di bawah daun. Serangan tungau sering terjadi di musim kemarau karena kondisi kering dan panas. Solusi: jaga kelembaban dengan mulsa jerami atau plastik, lakukan penyiraman yang cukup (2-3 hari sekali tergantung jenis tanah), dan semprot dengan air bertekanan tinggi untuk mengurangi populasi tungau.
Penyebab ketiga adalah kekurangan unsur hara, terutama seng (Zn) atau kalium (K). Ciri khasnya: daun keriting disertai klorosis (kuning) di antara tulang daun, pertumbuhan terhambat, dan tidak ada gejala pada permukaan bawah daun. Ini sering terjadi pada tanah berkapur atau pH tinggi. Solusi: aplikasi pupuk daun yang mengandung seng (ZnSO4) atau kalium (KNO3) sesuai dosis anjuran di kemasan, perbaiki pH tanah dengan sulfur jika perlu, dan lakukan pemupukan berimbang.