Penyebab kedua yang sering bertolak belakang adalah pembusukan akar akibat penyiraman berlebih yang merendam media tanpa drainase baik. Ketika pemilik tanaman melihat daun layu saat kemarau, dorongan refleks adalah menyiram air sebanyak 500 ml setiap hari. Akibatnya, porositas media tanah berkurang, kadar oksigen terdesak, dan jamur patogen merusak jaringan akar hingga tidak sanggup lagi menyerap air.
Suhu ruangan yang panas dan kelembapan relatif udara yang merosot di bawah 50 persen selama musim kemarau juga memicu kekeringan tajuk tanaman. Paparan sinar matahari langsung di atas pukul 10.00 pagi dapat membakar jaringan daun sirih gading, mengubah warnanya menjadi cokelat kekuningan, lalu layu secara permanen dalam waktu 24 hingga 48 jam jika tidak segera dipindahkan.
Penanganan sirih gading layu memerlukan pendekatan yang tepat berdasarkan pemeriksaan fisik media tanah dan akar. Pemangkasan 20 sampai 30 persen batang yang terlalu panjang, penggantian media tanam berbahan poros seperti campuran sekam bakar dan cocopeat dengan rasio 1:1, serta penjadwalan siram 2 hari sekali di pagi hari jam 07.00 akan memulihkan kesegaran tanaman dalam 7 sampai 14 hari.






