Hama seperti kutu putih dan kutu perisai menjadi ancaman utama karena kemampuan reproduksinya yang cepat di lingkungan tropis hangat dengan suhu 26 hingga 32 derajat Celsius. Serangga ini merusak jaringan tanaman dengan menusuk sel daun dan mengisap nutrisi secara terus-menerus, yang berakibat pada munculnya bercak keperakan atau kekuningan. Selain merusak bentuk visual, sekresi embun madu dari kutu ini merangsang tumbuhnya jamur jelaga hitam yang menghalangi proses fotosintesis.
Pada musim kemarau atau di dalam ruangan berpendingin udara dengan kelembapan di bawah 50 persen, serangan tungau laba-laba dan thrips menjadi jauh lebih intensif. Hama berukuran mikroskopis ini berpindah antardaun melalui aliran udara dan meninggalkan bekas garukan berupa bintik-bintik cokelat keperakan pada helaian Monstera. Pengamatan rutin seminggu dua kali menggunakan kaca pembesar sangat disarankan agar serangan awal dapat terdeteksi sebelum merusak struktur fenestrasi daun secara permanen.
Pengendalian terpadu harus berfokus pada tindakan pembersihan mekanis serta pengaplikasian bahan penyemprot hayati secara berkala setiap 5 sampai 7 hari sekali. Pemangkasan bagian tanaman yang terserang lebih dari 60 persen perlu dilakukan untuk memutus siklus hidup hama. Penataan jarak antar-pot minimal 50 sentimeter juga efektif mencegah penularan koloni serangga ke koleksi tanaman hias lainnya di area pekarangan maupun dalam rumah.






