Penyebab utama yang paling sering ditemui di Indonesia adalah ketidakseimbangan frekuensi penyiraman. Banyak penyiram memberikan air setiap hari tanpa memeriksa kelembapan media tanam, padahal penyiraman ideal di musim kemarau cukup dilakukan 5 hingga 7 hari sekali saat 3 sampai 5 sentimeter lapisan atas media tanam sudah benar-benar kering. Penyiraman berlebih membuat ruang udara di dalam pot tergenang air, menghentikan respirasi akar, dan memicu pembusukan yang ditandai dengan perubahan warna daun menjadi kuning kebasahan.
Sebaliknya, kurangnya pasokan air saat cuaca terik juga memicu hilangnya turgor sel yang membuat daun menguning layu disertai tepi daun yang mengering dan memoklat. Penggunaan pot berdiameter 30 hingga 40 sentimeter tanpa lubang drainase yang memadai memperparah akumulasi garam dari air tanah atau sisa pupuk, yang pada akhirnya merusak perakaran halus penyerap unsur hara seperti nitrogen dan magnesium.
Paparan sinar matahari langsung pada jam terik pukul 10:00 hingga 14:00 WIB di musim kemarau juga dapat membakar jaringan daun (sunburn) hingga memunculkan bercak kuning keabuan yang mengering dalam hitungan hari. Untuk mengatasinya, perbaikan pola siram, pemindahan posisi pot ke area beratap transparan, dan pemangkasan daun terdampak akan mengembalikan kesegaran tunas baru dalam waktu 2 hingga 4 minggu.






