Penyebab pertama yang paling sering ditemui adalah stres kekeringan akibat frekuensi penyiraman yang tidak mencukupi. Selama musim kemarau, media tanam pot atau tanah bedengan cepat sekali kering dan mengeras, membuat air penyiraman langsung mengalir ke samping tanpa membasahi zona akar utama. Tanaman merespons kekurangan air ini dengan menutup stomata, menggugurkan daun tua, dan membiarkan pucuk mudanya terkulai lemas. Jika tidak segera ditangani dengan penyiraman yang meresap hingga kedalaman akar, jaringan tanaman akan mengalami kerusakan permanen.
Selain faktor air, kita juga harus mewaspadai serangan hama tersembunyi seperti ulat penggerek batang yang melubangi jaringan kayu utama mawar. Ketika batang utama berlubang, suplai air dan hara dari akar terputus total ke bagian atas tanaman, menyebabkan layu mendadak pada satu sisi cabang saja. Faktor ketiga yang tidak kalah berbahaya adalah busuk akar akibat jamur tanah, terutama jika sisa air siraman menggenap di media yang terlalu padat dan kurang memiliki drainase baik di bawah naungan.
Untuk memulihkan mawar yang layu, langkah pertama adalah melakukan pengecekan menyeluruh pada media tanam dan kondisi fisik batang. Lakukan penyiraman dalam secara rutin dua kali sehari pada pagi dan sore hari saat musim kemarau, serta berikan lapisan bahan organik di permukaannya untuk menjaga kelembapan tanah. Pangkas cabang yang sudah kering atau terserang hama agar energi tanaman terfokus pada pertumbuhan tunas baru yang lebih sehat dan tahan terhadap cuaca panas.