Diagnosis awal layu dapat dilakukan dengan mengamati pola kelayuan sepanjang hari. Jika tanaman okra terlihat layu pada siang terik namun segar kembali saat sore atau pagi hari, penyebab utamanya adalah laju evapotranspirasi yang melebihi kemampuan akar menyerap air tanah. Namun, jika kelayuan bersifat permanen dan daun memuning secara bertahap dari bagian bawah, infeksi patogen tanah seperti Fusarium oxysporum atau Ralstonia solanacearum perlu diwaspadai.
Kerusakan sistem perakaran akibat serangan nematoda bintil akar juga kerap menjadi pemicu terselubung saat suhu tanah memanas di musim kemarau. Pembengkakan abnormal pada akar mencegah penyerapan hara dan air secara drastis, sehingga tanaman yang sedang berproduksi pada umur 45 hingga 60 hari setelah tanam tiba-tiba roboh dan mengering.
Pemulihan tanaman okra yang mengalami layu membutuhkan kombinasi pengaturan irigasi teknis dan perbaikan struktur tanah. Pemberian mulsa organik setebal 5 hingga 7 sentimeter di sekitar pangkal batang terbukti efektif menekan penguapan air tanah hingga 40 persen sekaligus menjaga suhu perakaran tetap stabil selama periode kemarau panjang.






