Selain masalah nutrisi, populasi hama penghisap seperti kutu kebul (Bemisia tabaci) dan tungau merah cenderung melonjak tajam pada musim kemarau dengan kelembapan udara di bawah 60%. Serangga ini mengisap cairan sel daun okra sehingga menimbulkan bintik-bintik kuning tidak merata pada permukaan daun. Jika diamati lebih dekat pada umur 20 hingga 40 hari setelah tanam (HST), permukaan bawah daun sering kali dipenuhi koloni serangga kecil atau jaring halus yang merusak jaringan klorofil.
Penyebab lain yang lebih berbahaya adalah penyakit Yellow Vein Mosaic Virus (YVMV) yang ditularkan oleh serangga vektor kutu kebul. Ciri khas infeksi virus ini terlihat dari jala tulang daun yang menebal dan berwarna kuning terang memikat, sementara helai daun di antaranya tetap berwarna hijau atau menyusul kuning. Jika serangan virus ini terjadi sebelum tanaman berumur 35 HST, potensi kehilangan hasil panen buah okra dapat mencapai 70% hingga 90% karena pertumbuhan tanaman terhenti secara permanen.
Untuk mengatasi masalah daun kuning ini, langkah sanitasi lahan dan pemupukan susulan berimbang harus segera diterapkan. Pemberian pupuk organik cair sebanyak 50 ml yang dilarutkan dalam 10 liter air dan dikocorkan seminggu sekali mampu memulihkan kekuningan akibat kurang hara. Sementara itu, untuk menekan penyebaran virus dan hama penghisap, pencabutan tanaman yang terinfeksi parah serta pemasangan perangkap kuning lengket sebanyak 20 unit per hektar sangat efektif dilakukan.






