Penyebab pertama yang paling sering dijumpai adalah stres kekeringan akibat penguapan yang tinggi di musim kemarau. Okra sebenarnya tanaman yang cukup tahan kering, tetapi jika media tanam dibiarkan kering kerontang selama 3 hingga 4 hari berturut-turut, akar tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal dan daun tua akan menguning lalu rontok. Sebaliknya, penyiraman yang tidak merata di tengah tanah yang padat juga menghambat sirkulasi udara di zona perakaran. Oleh karena itu, menjaga kelembapan tanah melalui teknik penyiraman yang tepat dan pemberian mulsa organik jerami setebal 5 sentimeter sangat krusial untuk menekan suhu tanah.
Faktor kedua yang harus diwaspadai adalah kehadiran hama pengisap cairan daun seperti tungau merah atau kutu kebul yang berkembang biak sangat cepat pada suhu panas kemarau. Hama-hama ini biasanya bersembunyi di permukaan bawah daun, menusuk jaringan tanaman, dan menghisap cairan sel sehingga daun menunjukkan bercak kuning bercak yang lama-kelamaan melebar dan membuat daun mengering. Jika dibiarkan tanpa tindakan pengendalian mekanis seperti pemangkasan daun terinfeksi, populasi hama ini dapat merusak seluruh tajuk tanaman okra dalam kurun waktu dua minggu saja.
Penyebab ketiga berkaitan dengan ketersediaan unsur hara makro sekunder dan primer, terutama nitrogen dan magnesium, yang tercuci atau terikat kuat di dalam tanah kering. Tanaman okra yang memasuki fase generatif atau mulai berbunga membutuhkan asupan hara yang seimbang setiap minggu untuk mendukung metabolisme daun muda dan pembentukan polong. Apabila Anda melihat daun menguning secara merata sementara urat daun tetap hijau terang, berikan pupuk kandang matang sebanyak 1 kilogram per tanaman atau aplikasikan pupuk susulan kaya nitrogen secara bijak di sekitar perakaran yang telah disiram terlebih dahulu.