Pemasangan tajar atau tiang panjat harus dilakukan sebelum bibit ditanam, di mana tajar bisa berupa pohon hidup seperti dadap atau tajar mati dari kayu ulin setinggi 3 meter. Tanam dua bibit lada dalam satu lubang tanam di sisi timur dan barat tajar dengan kemiringan 45 derajat agar sistem perakaran cepat menyebar. Lakukan penyiraman secara rutin dua kali sehari pada musim kemarau dan kurangi intensitasnya saat musim hujan untuk mencegah genangan air. Penyiangan gulma di sekitar piringan tanaman wajib dilakukan setiap bulan untuk menghindari kompetisi unsur hara.
Pemupukan susulan menggunakan pupuk organik dan anorganik diberikan tiga kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan, di tengah musim hujan, dan di akhir musim hujan. Dosis pemupukan disesuaikan dengan umur tanaman, di mana tanaman muda memerlukan 100 gram per pohon sementara tanaman dewasa membutuhkan hingga 500 gram per pohon. Pemangkasan bentuk dan pemangkasan cabangan dilakukan secara berkala untuk merangsang pertumbuhan cabang buah dan menjaga intensitas cahaya matahari yang masuk ke tajuk tanaman. Sanitasi kebun dengan membuang bagian tanaman yang terserang penyakit harus rutin dikerjakan.
Tanaman lada umumnya mulai berbuah pada umur 2 hingga 3 tahun setelah tanam di lapangan dengan produktivitas optimal tercapai pada umur 4 sampai 8 tahun. Pemanenan dilakukan secara manual dengan memetik tandan buah yang sudah mulai menguning satu atau dua butir, biasanya terjadi pada bulan Juli hingga Oktober di wilayah Indonesia. Setelah panen, buah lada segera dilepaskan dari tangkainya dan melalui proses perendaman serta penjemuran selama 3 hingga 5 hari hingga kadar airnya mencapai 12 persen. Simpan lada kering di dalam karung goni pada ruangan yang kering dan berventilasi baik untuk menjaga kualitas aromanya.