Penggerek batang lada (Lophobaris piperis) dan penggerek buah (Dasynus piperis) menjadi ancaman utama yang paling sering merusak hasil panen lada hitam maupun lada putih. Kumbang penggerek batang aktif bertelur di dalam jaringan batang muda pada awal musim hujan, membuat lorong gerogokan yang mematikan cabang produktif. Sementara itu, kepinding buah menyerang dompolan buah muda pada umur 2 sampai 4 bulan setelah pembungaan, menyebabkan buah mengering lalu gugur prematur.
Hama pengisap seperti kutu daun (Pseudococcus) dan penggulung daun juga kerap muncul melimpah di musim kemarau saat suhu udara berkisar 28 hingga 34 derajat Celsius. Serangan kutu daun memicu tumbuhnya jamur embun jelaga yang menutupi permukaan daun hingga 80 persen, mengganggu proses fotosintesis secara drastis. Sanitasi kebun dengan pemangkasan pohon panjat pembayang sebanyak 20 hingga 30 persen agar cahaya masuk menjadi langkah preventif yang mutlak dilakukan.
Pengendalian hama lada secara bijak mengombinasikan teknik budidaya, hayati, dan kimia sebagai opsi terakhir sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pemanfaatan agens hayati seperti Beauveria bassiana dengan penyemprotan sore hari interval 7 sampai 10 hari sekali terbukti efektif menekan populasi serangga. Jika populasi melewati ambang batas, aplikasi insektisida kimia hendaknya disesuaikan dengan petunjuk pada kemasan serta dikonsultasikan kepada petugas BPP setempat.





