Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa kekeringan adalah satu-satunya faktor penyebab. Serangan organisme pengganggu tanaman seperti tungau merah atau kutu kebul yang berkembang biak sangat cepat pada suhu tinggi juga kerap menjadi dalang di balik menguningnya daun karet. Hama-hama ini mengisap cairan sel daun secara masif, meninggalkan bercak klorosis yang lama-kelamaan berubah warna menjadi kuning kecokelatan dan rontok sebelum waktunya.
Faktor kesuburan tanah di lahan perkebunan juga memegang peranan krusial yang harus dievaluasi secara berkala. Defisiensi hara makro seperti nitrogen, magnesium, atau kalium pada tanah ultisol yang mendominasi sebagian besar wilayah perkebunan karet di Indonesia dapat memicu klorosis antar urat daun. Gejala ini biasanya dimulai dari daun tua di bagian bawah tajuk pohon sebelum akhirnya menyebar ke bagian pucuk tanaman.
Sebagai langkah antisipasi dan pemulihan, pekebun dianjurkan untuk rutin memantau blok kebun setiap minggu, menerapkan pemupukan berimbang tepat waktu menjelang akhir musim hujan, serta menjaga kelembapan tanah melalui aplikasi mulsa organik dari guguran daun atau penutup tanah leguminosa. Mari kita kenali setiap kemungkinan penyebab secara mendetail agar tindakan penanganan yang kita ambil tepat sasaran dan efisien.