Untuk fase TBM, pemupukan dilakukan setiap 3–4 bulan sekali dengan dosis N lebih tinggi untuk merangsang pertumbuhan vegetatif. Contoh dosis per pohon per tahun: 200–300 gram Urea, 100–150 gram SP-36, dan 150–200 gram KCl, ditambah 50–100 gram Dolomit (Mg). Pupuk diberikan dalam bentuk larikan melingkar di bawah tajuk, sedalam 10–15 cm, lalu ditutup tanah. Pada tahun ke-4 dan ke-5, dosis ditingkatkan secara bertahap untuk mempersiapkan pohon memasuki fase sadap.
Pada fase TM, pemupukan dilakukan 2 kali setahun, yaitu awal musim hujan (Oktober–November) dan akhir musim hujan (Maret–April). Dosis per pohon per tahun: 400–600 gram Urea, 200–300 gram SP-36, 300–400 gram KCl, dan 100–200 gram Dolomit. Untuk memacu produksi lateks, tambahkan pupuk daun yang mengandung boron (B) dan seng (Zn) seminggu sekali selama musim hujan. Hindari pemupukan saat pohon menggugurkan daun (musim kemarau) karena penyerapan tidak optimal.
Pemupukan organik juga dianjurkan, misalnya pupuk kandang atau kompos sebanyak 5–10 kg per pohon per tahun, diberikan bersamaan dengan pupuk anorganik. Pastikan pH tanah antara 5,5–6,5; jika terlalu masam, tambahkan kapur dolomit 1–2 kg per pohon setiap 2 tahun. Selalu lakukan analisis tanah setiap 2 tahun untuk menyesuaikan dosis pupuk. Pemupukan yang tepat akan menghasilkan batang sadap optimal (lingkar batang >45 cm pada tinggi 130 cm) dan produksi lateks 1,5–2 kg per pohon per bulan.