Pemupukan tanaman karet harus dilakukan secara tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu guna mendukung pertumbuhan vegetatif maupun produksi lateks. Pada musim kemarau, pemupukan ditunda untuk menghindari penguapan unsur hara, dan aplikasi pupuk makro NPK dilakukan sebanyak dua kali setahun yaitu pada awal musim hujan dan menjelang akhir musim hujan ketika kelembapan tanah mencukupi. Pembuatan lubang pupuk di sekeliling tajuk pohon dengan kedalaman sepuluh sentimeter sangat dianjurkan agar pupuk tidak terbawa air aliran permukaan tanah perkebunan yang umumnya berlereng.
Memasuki fase TM, teknik penyadapan getah atau tapping menjadi penentu utama produktivitas dan umur ekonomis tanaman karet. Penyadapan harus dilakukan dengan kedalaman irisan yang tepat yaitu mencapai 1 milimeter dari kambium tanpa melukai kayu, menggunakan sistem ½ Sd (setengah spiral, disadap dua hari sekali) agar pohon memiliki waktu pemulihan kulit yang cukup. Pisau sadap harus selalu dalam keadaan tajam dan steril untuk mencegah masuknya spora jamur penyebab penyakit busuk panel sadap yang sering mengancam kebun karet di wilayah bercurah hujan tinggi.
Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dilakukan secara terpadu dengan memantau kesehatan daun, batang, dan akar secara berkala setiap bulan. Sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan daun terserang penyakit gugur daun dan memusnahkannya melalui pembakaran terkontrol dapat menekan laju infeksi jamur patogen. Selain itu, penanaman tanaman penutup tanah (LCC - Legume Cover Crops) seperti Mucuna bracteata di antara barisan tanaman karet sangat efektif untuk menekan pertumbuhan gulma, menjaga kelembapan tanah, serta menyuplai unsur hara nitrogen alami sepanjang tahun.