Selain faktor kekurangan air murni, gejala layu pada talas sering kali merupakan manifestasi dari serangan penyakit tular tanah seperti layu bakteri atau jamur patogen. Patogen ini masuk melalui luka mekanis pada sistem perakaran akibat pengolahan tanah atau gigitan hama, lalu berkembang biak di dalam xilem hingga membentuk sumbatan lendir. Akibatnya, suplai air dan nutrisi dari tanah terputus total meskipun kondisi tanah di sekitar perakaran tampak lembap atau baru saja disiram.
Untuk membedakan penyebab layu secara akurat, pekebun perlu memeriksa penampang melintang pangkal batang talas yang layu dengan cara mengirisnya secara tipis. Jika terdapat cairan keruh berlendir atau lingkaran cokelat kehitaman pada cincin pembuluh kayu, maka penyebabnya adalah infeksi mikroorganisme patogen. Sebaliknya, jika jaringan batang masih tampak bersih dan segar secara visual namun bertekstur sangat kering, maka masalah utamanya murni berkaitan dengan defisit air dan suhu ekstrem kemarau.
Penanganan talas layu harus dilakukan secara cepat dan tepat sasaran sesuai dengan hasil diagnosis lapangan untuk menyelamatkan hasil panen umbi. Pada kasus kekurangan air, tindakan penyelamatan difokuskan pada pemulihan kelembapan tanah dan penurunan suhu mikro melalui penaungan parsial serta irigasi tetes berkala setiap sore hari. Sementara itu, untuk kasus serangan patogen, langkah eradikasi tanaman sakit dan sanitasi ketat mutlak dilakukan guna mencegah penularan ke rumpun talas sehat di sekitarnya.