Untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, petani perlu melakukan diagnosis diferensial guna membedakan layu fisik akibat kemarau dengan layu biologis akibat serangan patogen. Layu fisiologis karena kurang air ditandai dengan daun yang terkulai pada siang hari sekitar pukul 11.00 hingga 14.00, namun akan segar kembali pada malam atau pagi hari. Sebaliknya, jika tanaman tetap layu pada pagi hari meski tanah sudah disiram, kemungkinan besar pembuluh xilem telah tersumbat oleh bakteri Ralstonia solanacearum atau akar membusuk akibat infeksi Pythium.
Pencegahan layu akibat stres lingkungan pada musim kemarau dapat dilakukan dengan pemberian irigasi berkala sebanyak 2 kali sehari, yaitu pada pagi hari sebelum pukul 08.00 dan sore hari setelah pukul 16.00. Selain itu, penambahan mulsa organik berupa jerami padi setebal 5 hingga 7 cm di sekeliling pangkal tanaman sangat efektif menjaga kelembapan tanah, menurunkan suhu zona perakaran hingga 3 derajat Celsius, serta mencegah pembentukan kerak tanah yang keras.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gejala infeksi patogen tanah, sanitasi lahan harus segera diterapkan secara ketat untuk mencegah penularan ke rumpun sehat. Tanaman yang terinfeksi bakteri atau jamur akar harus dicabut bersama seluruh sisa perakarannya, lalu dimusnahkan jauh dari areal pertanaman. Pengolahan tanah susulan dengan pengapuran tanah serta pemberian bahan organik yang kaya akan mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma dapat menekan populasi patogen tanah secara berkelanjutan.






