Penyebab pertama yang paling sering ditemui adalah stres kekeringan murni akibat kurangnya pasokan air selama fase pembentukan polong di musim kemarau. Di lahan kering atau tegalan tanpa irigasi teknis, tanah yang pecah-pecah dapat merusak sistem perakaran dangkal kacang tanah dan memutus suplai hara. Namun, kita juga harus mewaspadai kemungkinan serangan layu fusarium atau layu bakteri yang dipicu oleh kondisi tanah yang terlalu panas dan lembap di sekitar perakaran. Patogen ini menyumbat jaringan pengangkutan air pada batang bagian bawah, sehingga tanaman menunjukkan gejala layu meskipun tanah di sekitarnya tampak cukup lembap.
Untuk mengatasi masalah kacang tanah layu, langkah awal yang harus dilakukan adalah memeriksa kondisi fisik perakaran dan pangkal batang secara teliti di lapangan. Jika ditemukan pembusukan akar berwarna hitam atau lendir kecokelatan, maka masalahnya adalah infeksi jamur atau bakteri yang memerlukan tindakan sanitasi ketat. Sebaliknya, jika akar hanya kering dan tanah sangat padat, maka pembenahan manajemen pengairan melalui teknik irigasi alur setiap tiga hari sekali menjadi solusi utama. Pemupukan berimbang dengan tambahan unsur hara kalium juga sangat membantu meningkatkan ketahanan dinding sel tanaman terhadap cekaman lingkungan dan serangan penyakit.
Pencegahan jangka panjang selalu lebih efektif dan efisien dibandingkan pengobatan tanaman yang sudah terlanjur terserang parah di tengah musim kemarau. Gunakan benih bersertifikat yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap penyakit tular tanah dan lakukan pergiliran tanaman dengan jenis non-legum seperti jagung untuk memutus siklus patogen. Pengolahan tanah yang sempurna sebelum tanam dengan penambahan bahan organik matang juga berperan besar dalam menjaga kelembapan mikro dan aerasi tanah. Selalu amati kesehatan pertanaman secara berkala setiap minggu agar setiap gejala awal layu dapat segera ditangani sebelum menyebar ke seluruh petakan lahan.