Sebagai langkah awal identifikasi, periksa kelembaban tanah di kedalaman sepuluh sentimeter menggunakan tangan atau alat pengukur sederhana di sekitar perakaran jagung. Jika tanah sangat kering dan berdebu, penyebab utama layu adalah defisit air akibat kurangnya irigasi yang mencukupi kebutuhan transpirasi tanaman harian. Namun, jika tanah cukup lembab namun tanaman tetap terkulai lemas, kita harus mencurigai adanya gangguan biologis pada sistem perakaran atau batang muda.
Pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan dengan mencabut satu sampel tanaman jagung yang layu secara hati-hati untuk mengamati bagian akar dan pangkal batang. Amati apakah ada bekas gigitan, pembusukan jaringan, atau perubahan warna kecoklatan hingga kehitaman di dalam jaringan pembuluh batang. Perbedaan gejala spesifik ini akan memandu kita memilih tindakan perbaikan yang tepat, baik melalui pengaturan air, sanitasi lahan, maupun pergiliran tanaman.
Penerapan budidaya yang tangguh di musim kemarau juga memerlukan langkah pencegahan berkelanjutan, seperti aplikasi mulsa organik jerami padi untuk menekan penguapan air tanah dan pemilihan varietas tahan cekaman kekeringan. Petani dianjurkan untuk selalu memantau kesehatan tanaman secara rutin setiap tiga hari sekali, terutama pada fase pertumbuhan vegetatif aktif hingga menjelang pembentukan tongkol jagung.