Layu akibat stres kekeringan dapat dikenali dari perilaku daun yang menggulung menyerupai jarum pada jam 11.00 hingga 14.00 WIB untuk mengurangi penguapan. Apabila tanaman kembali segar pada pagi hari sekitar jam 06.00 WIB, masalah utama murni terletak pada ketersediaan air tanah. Pada kondisi ini, berikan irigasi alur atau suplesi air sebanyak 25 sampai 30 milimeter setiap 5 hingga 7 hari sekali untuk menjaga kapasitas lapang tanah tanpa menggenangi perakaran secara berlebihan.
Sebaliknya, jika tanaman jagung tetap layu di pagi hari dan daun bagian bawah mulai menguning serta terkulai, penyebab utamanya adalah infeksi layu bakteri atau layu Fusarium. Patogen ini menyumbat pembuluh xilem sehingga transportasi air dari akar ke daun terhenti total. Pemotongan pangkal batang tanaman terinfeksi biasanya memperlihatkan warna pembuluh angkut yang berubah menjadi cokelat kemerahan atau mengeluarkan lendir bakteri saat direndam dalam segelas air jernih selama 5 menit.
Untuk meminimalkan risiko layu berkelanjutan di musim kemarau, aplikasi mulsa organik berupa jerami padi sebanyak 3 hingga 5 ton per hektar sangat dianjurkan untuk menekan evaporasi tanah. Selain itu, hindari tindakan pembumbunan yang merusak perakaran aktif pada kedalaman 10 sampai 15 sentimeter karena luka akar menjadi jalan masuk utama bagi spora Fusarium dan bakteri Ralstonia. Rotasi tanaman dengan famili non-rumput-rumputan seperti kedelai atau kacang tanah selama 1 musim tanam mutlak diperlukan untuk memutus siklus hidup patogen tanah.






