Pada fase vegetatif umur 1 hingga 4 bulan, hama pemakan daun seperti ulat grayak dan ulat tanduk menjadi ancaman utama yang dapat menghabiskan hingga 70% helai daun dalam waktu kurun 5 hari. Kehilangan luas daun yang drastis ini mengganggu proses fotosintesis sehingga pembentukan umbi menjadi terhambat. Pengendalian secara mekanis dengan mengutip ulat pada pagi hari pukul 06.00-08.00 sangat efektif untuk pertanaman skala rumahan maupun komersial.
Memasuki musim kemarau, hama pengisap cairan seperti kutu daun dan tungau merah lebih sering menyerang bagian bawah daun talas. Populasi kutu daun yang tidak terkendali menghasilkan embun madu yang memicu tumbuhnya jamur jelaga hitam, mematikan jaringan daun secara bertahap dalam kurun waktu 2 minggu. Selain merusak daun secara langsung, kutu daun juga berperan sebagai vektor virus yang dapat menyebabkan tanaman kerdil.
Pada masa pengumbian umur 5 hingga 8 bulan, sanitasi lahan dan kelembapan tanah harus diperhatikan dengan cermat. Drainase yang buruk pada musim hujan atau tanah yang terlalu keras pada musim kemarau dapat memicu serangan hama sekunder pada pangkal batang dan umbi. Dengan menerapkan pola tanam berjarak 70 x 70 cm dan pembersihan gulma secara berkala, risiko serangan hama talas dapat ditekan secara signifikan.





