Pengairan yang kurang tepat di musim kemarau, yaitu kurang dari 10 sampai 15 liter per meter persegi setiap dua hari sekali, dapat menyebabkan stomata daun menutup rapat. Akibatnya, penyerapan unsur hara mikro dan makro dari dalam tanah terhenti secara mendadak, membuat warna hijau klorofil pudar menjadi kuning pucat.
Selain faktor penyiraman, defisiensi hara Nitrogen dan Kalium memicu gejala klorosis yang khas pada pertanaman talas umur 2 hingga 5 bulan setelah tanam. Tanpa pemupukan susulan bahan organik padat sebanyak 1 sampai 2 kilogram per lubang tanam setiap bulan, tanaman akan merombak klorofil dari daun tua untuk menyokong pertumbuhan umbi.
Langkah pengendalian terpadu harus segera diterapkan begitu terlihat gejala awal pada 10 persen dari total populasi tanaman di lahan. Pengaturan sistem irigasi parit, pemberian mulsa jerami setebal 5 sampai 10 centimeter, serta sanitasi daun terserang adalah kunci utama menjaga produktivitas umbi tetap optimal.





