Penyakit pada sorgum umumnya terbagi menjadi infeksi yang menyerang daun dan infeksi yang merusak bagian malai atau biji muda. Penyakit daun seperti bercak daun dan karat daun sering kali muncul saat fase vegetatif aktif ketika daun terlalu lama basah oleh air hujan. Sementara itu, penyakit pada malai biasanya menyerang saat fase pembungaan hingga pengisian biji, di mana butiran sorgum berubah menjadi massa spora hitam yang merugikan. Masing-masing penyakit ini memiliki ciri visual yang khas dan membutuhkan pendekatan penanganan yang spesifik agar tidak salah dalam memberikan tindakan pemulihan.
Langkah pengendalian di lapangan harus mengedepankan prinsip PHT atau Pengendalian Hama Terpadu yang memadukan aspek kultur teknis dan sanitasi kebun. Petani dianjurkan untuk mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara di antara tanaman menjadi lebih lancar dan kelembapan mikro di sekitar tajuk dapat berkurang. Selain itu, pemupukan berimbang dengan mengurangi takaran nitrogen berlebih saat musim hujan sangat penting untuk memperkuat dinding sel tanaman terhadap serangan patogen. Penggunaan varietas sorgum yang memiliki ketahanan genetik terhadap penyakit utama juga menjadi strategi preventif yang sangat efektif dan ekonomis.
Apabila serangan penyakit telah melampaui ambang batas ekonomi dan tindakan kultur teknis belum mampu mengatasinya, penggunaan bahan pengendali kimiawi dapat dipertimbangkan. Pembaca wajib membaca dengan teliti petunjuk pada label kemasan produk perlindungan tanaman sebelum melakukan aplikasi di lahan pertanian. Selalu utamakan konsultasi dengan petugas penyuluh pertanian lapangan atau balai penyuluhan pertanian setempat untuk mendapatkan rekomendasi bahan yang tepat. Keselamatan kerja dan pelestarian lingkungan harus selalu diutamakan dalam setiap proses aplikasi pengendali organisme pengganggu tanaman.