Pada fase awal pertumbuhan, yaitu 0 hingga 30 hari setelah tanam (HST) di awal musim hujan atau transisi, serangan lalat bibit sering menjadi kendala utama. Hama ini meletakkan telur pada daun muda dan larvanya menggerogoti titik tumbuh, menyebabkan pucuk layu dan mati. Jika tidak dipantau secara ketat setiap 3 hari sekali, tingkat kerusakan populasi bibit di lapangan dapat mencapai 40 hingga 80 persen, yang memaksa petani melakukan penyulaman ulang.
Memasuki fase vegetatif hingga pembentukan malai (30 hingga 60 HST), ancaman beralih ke ulat grayak tentara dan penggerek batang. Pada rentang umur ini, pengamatan mingguan terhadap 20 sampel tanaman per hektar sangat dianjurkan. Ulat grayak merusak gulungan daun muda hingga menyisakan kotoran kasar, sementara penggerek batang membuat lubang pada ruas batang yang menyebabkan tanaman mudah roboh saat diterpa angin kencang pada puncak musim hujan.
Menjelang pengisian biji hingga panen (60 hingga 90 HST), terutama saat musim kemarau, kutu daun sorgum sering berkembang pesat. Kutu ini mengisap cairan daun dan menghasilkan embun jelut hitam yang menutupi permukaan fotosintesis. Melalui penerapan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang memadukan kultur teknis, pemanfaatan musuh alami, dan biopestisida, produktivitas sorgum dapat dipertahankan secara optimal di tingkat petani.





