Sorgum, Diagnosis dan Pengendalian Hama Utama Tanaman Sorgum
Petr Ganaj / Pexels

Diagnosis dan Pengendalian Hama Utama Tanaman Sorgum

Pengendalian hama sorgum secara efektif memerlukan identifikasi gejala sejak fase bibit hingga panen melalui pendekatan pengelolaan hama terpadu.

Jawaban singkat

Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman pangan masa depan Indonesia yang memiliki daya adaptasi tinggi di berbagai wilayah, mulai dari Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sumatera. Mampu tumbuh subur di lahan kering maupun basah, budidaya sorgum sepanjang tahun tetap tidak luput dari ancaman hama pemakan daun, penggerek batang, dan pengisap cairan. Pemahaman terhadap siklus hidup hama serta penanganan yang tepat sesuai fase tumbuh tanaman menjadi kunci utama dalam meminimalkan kehilangan hasil panen.

Ringkas: Sorgum

Cahaya
Sinar matahari penuh sepanjang hari minimal 8 jam
Penyiraman
Sedang, tahan kering tetapi butuh air saat pembungaan
Musim
Sepanjang tahun dengan pengaturan irigasi
Tingkat Kesulitan
Mudah

Tanaman alternatif pangan yang sangat tangguh di lahan marginal.

Pada fase awal pertumbuhan, yaitu 0 hingga 30 hari setelah tanam (HST) di awal musim hujan atau transisi, serangan lalat bibit sering menjadi kendala utama. Hama ini meletakkan telur pada daun muda dan larvanya menggerogoti titik tumbuh, menyebabkan pucuk layu dan mati. Jika tidak dipantau secara ketat setiap 3 hari sekali, tingkat kerusakan populasi bibit di lapangan dapat mencapai 40 hingga 80 persen, yang memaksa petani melakukan penyulaman ulang.

Memasuki fase vegetatif hingga pembentukan malai (30 hingga 60 HST), ancaman beralih ke ulat grayak tentara dan penggerek batang. Pada rentang umur ini, pengamatan mingguan terhadap 20 sampel tanaman per hektar sangat dianjurkan. Ulat grayak merusak gulungan daun muda hingga menyisakan kotoran kasar, sementara penggerek batang membuat lubang pada ruas batang yang menyebabkan tanaman mudah roboh saat diterpa angin kencang pada puncak musim hujan.

Menjelang pengisian biji hingga panen (60 hingga 90 HST), terutama saat musim kemarau, kutu daun sorgum sering berkembang pesat. Kutu ini mengisap cairan daun dan menghasilkan embun jelut hitam yang menutupi permukaan fotosintesis. Melalui penerapan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang memadukan kultur teknis, pemanfaatan musuh alami, dan biopestisida, produktivitas sorgum dapat dipertahankan secara optimal di tingkat petani.

Penyebab & Cara Mengatasi

Lalat Bibit (Atherigona soccata)

Ciri: Pucuk daun muda layu, mengering, dan mudah dicabut (deadheart) pada umur 7 hingga 28 HST, disertai bau pembusukan di pangkal batang.

Solusi: Lakukan penanaman serempak dalam kurun waktu 10 hari, gunakan mulsa organik, dan pasang perangkap kuning sebanyak 40 buah per hektar.

Ulat Grayak Tentara (Spodoptera frugiperda)

Ciri: Daun berlubang besar tidak teratur dan terdapat kotoran seperti serbuk gergaji basah pada gulungan daun muda.

Solusi: Semprotkan agens hayati jamur Metarhizium anisopliae atau ekstrak daun mimba ke dalam gulungan daun pada sore hari.

Penggerek Batang (Chilo partellus)

Ciri: Terdapat lubang-lubang kecil berderet pada daun, lubang masuk pada ruas batang dengan serbuk kayu, serta malai mengering atau hampa.

Solusi: Pangkas dan musnahkan tanaman yang terinfestasi berat, serta lepas parasitoid telur Trichogramma sp. sebanyak 50.000 ekor per hektar.

Kutu Daun Sorgum (Melanaphis sacchari)

Ciri: Permukaan bawah daun tertutup koloni serangga kecil berwarna kuning atau cokelat, daun menguning, dan dilapisi lapisan hitam embun jelut.

Solusi: Semprotkan larutan sabun kalium atau minyak nabati secara merata dan lestarikan predator alami seperti kumbang kubah.

Langkah-langkah

  1. Amati area pertanaman sorgum secara berkala 2 kali seminggu pada 20 sampel tanaman acak per hektar sejak 7 hari setelah tanam.
  2. Bersihkan gulma dan sisa tanaman musim sebelumnya di sekitar lahan dalam radius 2 meter untuk menghilangkan inang alternatif hama.
  3. Pasang perangkap likat kuning dan perangkap feromon sebanyak 20 hingga 40 titik per hektar sebagai sarana pemantauan imago.
  4. Aplikasikan biopestisida atau agens hayati saat populasi hama mulai melewati ambang kendali sesuai rekomendasi panduan teknis.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu paling kritis sorgum terserang lalat bibit?

Fase paling kritis adalah pada umur 7 hingga 21 hari setelah tanam. Setelah tanaman berumur lebih dari 30 hari, jaringan batang sorgum mengeras sehingga larva lalat tidak dapat masuk.

Apakah ulat grayak tentara dapat menyebabkan gagal panen total?

Ya, jika serangan terjadi pada titik tumbuh tanaman muda umur 15 sampai 30 HST dan tidak dikendalikan, tanaman dapat mati sebelum membentuk malai.

Bagaimana membedakan serangan penggerek batang dengan ulat grayak?

Ulat grayak merusak permukaan daun dan roset dengan kotoran kasar di atas daun, sedangkan penggerek batang membuat lubang fisik pada ruas batang tanaman.

Mengapa embun jelut akibat kutu daun merugikan sorgum?

Embun jelut menutupi permukaan daun sehingga menghambat proses fotosintesis, menurunkan bobot biji, dan mengotori malai sorgum.

Lebih lanjut tentang Sorgum

Panduan terkait

Hama & Pengendalian, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.