Memasuki fase pembungaan hingga pengisian biji di umur 60 hingga 90 hari setelah tanam, perhatian harus dialihkan ke area malai karena hama pemakan biji dan penggerek batang mulai mendominasi serangan. Tingkat kelembapan yang tinggi selama musim hujan sering kali memicu ledakan populasi ulat pemakan malai, sementara musim kemarau panjang kerap mengundang hama pengisap cairan tanaman yang membuat daun menguning dan mengering. Pengamatan visual pada bagian bawah daun dan dalam kelopak daun menjadi kunci penemuan dini sebelum populasi hama berkembang biak di luar kendali.
Pendekatan pengendalian hama terpadu di Indonesia sangat dianjurkan dengan memprioritaskan praktik budidaya yang bersih, seperti pembersihan gulma secara berkala, pengolahan tanah yang sempurna untuk memutus siklus hidup hama di dalam tanah, serta penerapan rotasi tanaman non-serealia. Penggunaan musuh alami seperti laba-laba, kumbang predator, dan burung hantu di sekitar lahan sorgum terbukti efektif menekan populasi hama tanpa merusak keseimbangan ekosistem pertanian lokal. Sanitasi lahan yang baik setelah panen juga memegang peranan penting untuk mencegah perpindahan hama ke musim tanam berikutnya.
Apabila populasi hama telah melewati ambang batas ekonomi dan tindakan manual serta hayati belum memadai, penggunaan bahan pengendalian kimia dapat dipertimbangkan secara bijaksana sesuai petunjuk pada label kemasan resmi. Petani wajib berkonsultasi dengan petugas penyuluh pertanian lapangan atau balai penyuluhan pertanian setempat untuk mendapatkan rekomendasi jenis bahan aktif yang terdaftar dan aman bagi lingkungan. Selalu utamakan keselamatan kerja dengan menggunakan alat pelindung diri lengkap saat melakukan aplikasi di lahan sorgum.