Faktor kedua yang sering memicu gejala kuning pada daun adalah defisiensi unsur hara makro, terutama nitrogen, yang mudah tercuci atau tidak terserap optimal saat tanah terlalu kering. Pada tanah tegalan di Indonesia yang sering mengalami pemupukan tidak berimbang, tanaman sorgum usia 30 hingga 45 hari pasca tanam sangat rentan menunjukkan gejala klorosis seragam pada daun muda dan tua. Unsur nitrogen sangat krusial untuk pembentukan protein dan zat hijau daun, sehingga kekurangannya langsung menurunkan kapasitas fotosintesis tanaman secara drastis.
Selain faktor abiotik, serangan patogen tular tanah dan udara seperti jamur penyebab bulai (Peronosclerospora sorghi) juga kerap mengancam pertanaman sorgum di musim kemarau basah atau masa transisi. Penyakit ini meninggalkan jejak khas berupa garis-garis klorotik atau kuning sejajar dengan tulang daun yang akhirnya berubah menjadi nekrotik. Jika kelembapan malam hari cukup tinggi akibat embun pagi yang pekat, spora jamur ini dapat menyebar dengan cepat dan melumpuhkan pertumbuhan tanaman muda dalam hitungan minggu.
Untuk memulihkan kondisi tanaman, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah memastikan ketersediaan air melalui penyiraman terarah minimal dua kali seminggu jika sumur atau irigasi tersedia. Diikuti dengan pemupukan susulan berbasis nitrogen yang dibenamkan ke dalam tanah di sekitar perakaran, lalu ditutup kembali agar unsur hara tidak menguap di bawah terik matahari kemarau. Pemantauan rutin terhadap kebersihan gulma di sekitar rumpun sorgum juga sangat membantu menekan kompetisi penyerapan air dan nutrisi.