Pemupukan susulan pertama dilakukan pada umur 15-20 HST menggunakan pupuk nitrogen dan fosfat sekitar 100 kg per hektar, dilanjutkan pemupukan kedua pada umur 35-40 HST saat fase vegetatif akhir menjelang berbunga. Bersamaan dengan pemupukan kedua, lakukan pembumbunan tanah setinggi 10-15 cm di sekitar pangkal batang untuk memperkuat perakaran agar sorgum tidak mudah rebah saat terpaan angin kencang.
Meskipun sorgum tergolong hemat air, pengairan tetap diperlukan pada fase kritis yaitu saat perkecambahan, pembentukan malai (30-45 HST), dan pengisian biji (60-75 HST) dengan frekuensi 1-2 minggu sekali tergantung kelembapan tanah. Penyiangan gulma dilakukan secara mekanis pada umur 15 HST dan 30 HST agar nutrisi tanah tidak berebut dengan gulma pengganggu.
Menjelang fase pematangan biji di umur 80-100 HST, tantangan utama adalah serangan burung dan hama ulat grayak. Pemasangan jaring penghalau burung atau orang-orang sawah sangat efektif dipasang saat biji mulai masak susu hingga panen pada umur 100-110 HST, ditandai dengan biji yang mengeras dan munculnya bercak hitam (black layer) pada pangkal biji.





