Cara Menanam Jewawut dari Awal Sampai Panen

Menanam jewawut membutuhkan persiapan lahan yang gembur, pembenihan yang tepat, serta perawatan teratur agar dapat dipanen dalam waktu 75 hingga 90 hari setelah tanam.

Jawaban singkat

Jewawut (Setaria italica) merupakan tanaman pangan lokal kaya nutrisi yang sangat toleran terhadap kekeringan dan dapat ditanam di dataran rendah hingga tinggi hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia, penanaman jewawut paling ideal dilakukan pada awal musim kemarau atau akhir musim hujan dengan curah hujan berkisar 200 hingga 500 mm per musim. Lahan budidaya memerlukan pengolahan tanah sedalam 20 sampai 25 cm serta pemberian pupuk kandang matang sebanyak 5 hingga 10 ton per hektar sebelum benih ditebar.

Ringkas: Jewawut

Cahaya
Sinar matahari penuh (8-10 jam per hari)
Penyiraman
Sedikit hingga sedang, sangat tahan kekeringan
Musim
Awal musim kemarau / akhir musim hujan
Tingkat Kesulitan
Mudah

Tanaman sangat efisien dalam penggunaan air dan cocok untuk lahan kering atau marjinal.

Kebutuhan benih jewawut untuk satu hektar lahan adalah sekitar 8 sampai 10 kilogram dengan jarak tanam ideal 20 x 20 cm atau sistem alur berjarak 30 cm antar barisan. Kedalaman penanaman benih cukup 1 hingga 2 cm dari permukaan tanah karena ukuran benih yang sangat kecil. Penjarangan bibit dilakukan saat tanaman berumur 10 sampai 14 hari setelah tanam (HST), menyisakan 2 hingga 3 tanaman paling sehat per lubang tanam agar pertumbuhan anakan lebih optimal.

Pemeliharaan rutin mencakup penyiangan gulma pada umur 15 HST dan 30 HST, serta pengairan secukupnya terutama pada fase pembungaan di umur 40 sampai 45 HST. Pemupukan susulan menggunakan bahan organik atau pemupukan berimbang dilakukan pada umur 21 HST untuk merangsang pembentukan malai yang lebat. Karena jewawut tahan terhadap lahan marjinal, konsumsi air tanaman ini jauh lebih hemat dibandingkan padi, yaitu hanya membutuhkan penyiraman 1 sampai 2 kali seminggu jika kondisi tanah sangat kering.

Pemanenan jewawut dapat dilakukan saat tanaman berumur 75 hingga 90 HST ketika 80 persen malai telah berwarna kuning kecokelatan dan bijinya terasa keras saat digigit. Potong malai beserta 10 sampai 15 cm batangnya menggunakan sabit, lalu jemur di bawah sinar matahari selama 3 hingga 5 hari hingga kadar airnya turun mencapai 12 sampai 14 persen. Hasil panen rata-rata jewawut berkisar antara 1,5 hingga 2,5 ton malai kering per hektar bergantung pada varietas dan kesuburan tanah.

Langkah-langkah

  1. Olah tanah dengan mencangkul sedalam 20 cm, lalu campurkan pupuk kandang matang dan buat bedengan setinggi 20 cm.
  2. Buat alur tanam atau lubang berjarak 20 x 20 cm, lalu tebar benih jewawut sebanyak 3 sampai 5 biji per lubang pada kedalaman 1 cm.
  3. Lakukan penjarangan pada umur 14 HST hingga tersisa 2 tanaman terkuat per lubang, dilanjutkan dengan penyiangan gulma secara berkala.
  4. Panen malai jewawut pada umur 75 sampai 90 HST dengan memotong tangkai malai saat bulir sudah menguning keras, lalu jemur selama 3 hingga 5 hari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa lama jewawut bisa dipanen sejak ditanam?

Jewawut umumnya dapat dipanen dalam waktu 75 hingga 90 hari setelah tanam, tergantung pada varietas dan kondisi iklim setempat.

Apakah jewawut bisa ditanam di pot atau polybag?

Bisa, jewawut dapat ditanam dalam polybag berdiameter minimal 30 cm dengan media tanah gembur dan kompos berbanding 2:1.

Kapan waktu terbaik untuk menanam jewawut di Indonesia?

Waktu terbaik adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau agar tanaman mendapat cukup air saat awal pertumbuhan dan kering saat pematangan bulir.

Mengapa tanaman jewawut saya roboh sebelum panen?

Rebah tanaman biasanya disebabkan oleh jarak tanam yang terlalu rapat, kelebihan unsur nitrogen, atau angin kencang tanpa adanya pembumbunan tanah pada pangkal batang.

Lebih lanjut tentang Jewawut

Panduan terkait

Cara Menanam, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.