Kebutuhan benih jewawut untuk satu hektar lahan adalah sekitar 8 sampai 10 kilogram dengan jarak tanam ideal 20 x 20 cm atau sistem alur berjarak 30 cm antar barisan. Kedalaman penanaman benih cukup 1 hingga 2 cm dari permukaan tanah karena ukuran benih yang sangat kecil. Penjarangan bibit dilakukan saat tanaman berumur 10 sampai 14 hari setelah tanam (HST), menyisakan 2 hingga 3 tanaman paling sehat per lubang tanam agar pertumbuhan anakan lebih optimal.
Pemeliharaan rutin mencakup penyiangan gulma pada umur 15 HST dan 30 HST, serta pengairan secukupnya terutama pada fase pembungaan di umur 40 sampai 45 HST. Pemupukan susulan menggunakan bahan organik atau pemupukan berimbang dilakukan pada umur 21 HST untuk merangsang pembentukan malai yang lebat. Karena jewawut tahan terhadap lahan marjinal, konsumsi air tanaman ini jauh lebih hemat dibandingkan padi, yaitu hanya membutuhkan penyiraman 1 sampai 2 kali seminggu jika kondisi tanah sangat kering.
Pemanenan jewawut dapat dilakukan saat tanaman berumur 75 hingga 90 HST ketika 80 persen malai telah berwarna kuning kecokelatan dan bijinya terasa keras saat digigit. Potong malai beserta 10 sampai 15 cm batangnya menggunakan sabit, lalu jemur di bawah sinar matahari selama 3 hingga 5 hari hingga kadar airnya turun mencapai 12 sampai 14 persen. Hasil panen rata-rata jewawut berkisar antara 1,5 hingga 2,5 ton malai kering per hektar bergantung pada varietas dan kesuburan tanah.