Pemupukan susulan pertama diberikan saat jewawut berumur 14 hingga 21 hari setelah tanam (HST) pada awal fase vegetatif. Fokus pemberian pupuk pada fase ini adalah unsur nitrogen untuk memacu pertumbuhan batang dan perakaran yang kuat. Aplikasi dilakukan dengan membuat larikan atau lubang di samping barisan tanaman berjarak 5 cm, lalu ditutup kembali dengan tanah agar pupuk tidak menguap atau tererosi air.
Memasuki fase generatif pada umur 35 hingga 45 HST, jewawut membutuhkan tambahan pupuk susulan kedua yang kaya akan unsur fosfat dan kalium. Unsur fosfat mempercepat pembentukan malai, sedangkan kalium berfungsi menguatkan dinding sel batang agar tanaman tidak mudah rebah saat diterpa angin kencang di musim hujan. Pengisian bulir jewawut akan jauh lebih padat dan bernas jika kebutuhan kalium terpenuhi dengan baik pada fase ini.
Pada musim kemarau, pemupukan sebaiknya disertai dengan penyiraman secukupnya agar pupuk terlarut dan mudah diserap oleh akar. Sebaliknya, saat musim hujan, hindari pemberian pupuk nitrogen yang berlebihan karena dapat memicu serangan jamur dan membuat batang terlalu sukulen. Dengan manajemen pupuk jewawut yang tepat, tanaman siap dipanen pada umur 75 hingga 90 HST dengan rendemen bulir yang memuaskan.