Kekurangan unsur hara nitrogen menjadi penyebab paling umum saat tanaman memasuki fase vegetatif cepat pada umur 15 hingga 30 HST. Gejalanya ditandai dengan daun bagian bawah yang menguning dari ujung memusat membentuk huruf V terbalik, sementara tulang daun tetap hijau, sebelum akhirnya mengering total dalam waktu 7 hingga 10 hari jika tidak diberi pupuk susulan.
Selain masalah nutrisi, drainase tanah yang buruk di musim hujan dapat menyebabkan pembusukan akar halus sehingga tajuk jewawut menguning akibat tergenang air lebih dari 24 jam. Sebaliknya, pada musim kemarau panjang tanpa penyiraman selama lebih dari 14 hari berturut-turut, jewawut akan menggulung daunnya lalu menguning sebagai mekanisme pertahanan diri dari dehidrasi.
Serangan hama seperti ulat grayak atau infeksi cendawan bercak daun pada kelembapan udara di atas 85 persen juga mampu memicu klorosis lokal pada lembaran daun. Pemangkasan bagian yang terinfeksi dan pengaturan jarak tanam ideal 20 x 40 cm menjadi langkah sanitasi kunci agar penularan penyakit tidak meluas ke seluruh areal pertanaman.