Pemeliharaan tanaman berfokus pada proses pembumbunan dan penyiangan gulma. Pada umur 20 sampai 25 hari setelah tanam (HST), lakukan penyiangan pertama diikuti pembumbunan tanah di sekitar pangkal batang. Proses pembumbunan ini menimbun pangkal tanaman dengan tanah gembur sehingga ginofor yang tumbuh dari bunga dapat masuk ke dalam tanah dengan lancar untuk membentuk polong. Berikan pupuk kandang sapi atau kambing yang sudah matang sebanyak 5 sampai 10 ton per hektar saat pengolahan tanah awal.
Pengairan harus diatur secara konsisten terutama pada fase kritis. Tanaman kacang tanah membutuhkan air yang cukup pada fase berkecambah (0-15 HST), fase berbunga (25-35 HST), dan fase pengisian polong (45-65 HST). Lakukan penyiraman setiap 2 sampai 3 hari sekali jika tidak ada hujan, namun pastikan air tidak menggenang karena dapat memicu pembusukan akar. Saat tanaman memasuki fase pematangan polong pada umur 80 HST ke atas, kurangi pengairan secara bertahap untuk mematangkan biji secara optimal.
Pemanenan dilakukan saat tanaman berumur 90 sampai 100 hari setelah tanam, tergantung varietas yang digunakan seperti varietas Gajah atau Tuban. Ciri fisik tanaman siap panen adalah sebagian besar daun mulai menguning serta gugur, dan jika polong sampel dibuka, bagian dalam kulit polong sudah berwarna cokelat kehitaman. Cabut tanaman secara perlahan, petik polongnya, lalu jemur di bawah terik matahari selama 3 sampai 5 hari hingga kadar air turun mencapai 10 sampai 12 persen untuk pencegahan jamur aflatoksin selama penyimpanan.





