Olah tanah 2–3 minggu sebelum tanam. Cangkul sedalam 20–30 cm, bersihkan gulma, dan buat bedengan lebar 1–1,2 m dengan tinggi 20–30 cm. Beri pupuk dasar: 10–15 ton/ha pupuk kandang atau kompos, 50 kg/ha urea, 100 kg/ha SP36, dan 75 kg/ha KCl. Tabur pupuk di alur sedalam 5 cm di samping barisan tanam. Tanam benih sedalam 3–5 cm dengan jarak tanam 30×20 cm (satu biji per lubang) atau 40×20 cm (dua biji per lubang). Pada musim hujan, tanam di atas bedengan untuk menghindari genangan. Setelah tanam, siram secukupnya.
Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pembumbunan, dan pengendalian hama. Siram 2–3 hari sekali jika tidak hujan, terutama saat pembungaan dan pengisian polong. Lakukan penyiangan 2–3 kali: pertama pada umur 2–3 minggu, kedua pada 4–5 minggu, dan ketiga sebelum berbunga (6–7 minggu). Pembumbunan dilakukan bersamaan penyiangan dengan menimbun pangkal batang setinggi 5–7 cm untuk memudahkan ginofor masuk tanah. Hama utama: ulat grayak (Spodoptera litura) dan kutu daun (Aphis craccivora). Penyakit: bercak daun (Cercospora) dan layu bakteri. Gunakan pestisida sesuai label dan konsultasi dengan BPP setempat.
Panen dilakukan saat tanaman berumur 90–100 hari, ditandai daun menguning dan rontok, polong mengeras dengan jaring jelas, dan kulit polong coklat kehitaman. Cabut tanaman dengan hati-hati, lalu jemur polong di bawah sinar matahari 3–5 hari hingga kadar air 8–10%. Simpan polong di tempat kering dan sejuk. Produktivitas rata-rata 2–3 ton/ha polong kering. Untuk benih, pilih polong dari tanaman sehat dan simpan di wadah kedap udara.