Penyiraman dilakukan secara rutin sebanyak satu kali sehari pada fase awal pertumbuhan hingga tanaman berumur dua minggu, kemudian dikurangi menjadi tiga kali seminggu saat musim kemarau. Memasuki usia 30 hingga 45 hari setelah tanam, lakukan penyiangan gulma sekaligus pembumbunan tanah di sekitar pangkal batang untuk membantu proses penetrasi ginofor atau bakal polong ke dalam tanah. Hindari mencangkul terlalu dalam agar tidak merusak sistem perakaran dangkal yang sedang aktif menyerap unsur hara.
Pemupukan susulan menggunakan pupuk kaya unsur hara makro diberikan pada saat tanaman berumur 15 dan 35 hari setelah tanam dengan cara ditugal di samping barisan tanaman lalu ditutup tanah. Tambahkan kapur pertanian atau dolomit jika tingkat keasaman tanah atau pH berada di bawah 6 untuk mencukupi kebutuhan kalsium yang sangat penting dalam pengisian polong agar tidak hampa. Pengamatan rutin terhadap serangan hama seperti lalat bibit dan ulat grayak harus dilakukan setiap tiga hari sekali untuk pencegahan dini.
Pemanenan kacang tanah dilakukan saat tanaman berumur 90 hingga 100 hari setelah tanam, ditandai dengan menguningnya daun, polong yang sudah keras dan berwarna cokelat kehitaman di bagian dalam. Cabut tanaman secara hati-hati pada pagi hari saat cuaca cerah, lalu jemur polong bersama batangnya selama 2 hingga 3 hari sebelum rontok untuk menjaga kualitas biji. Simpan hasil panen di tempat yang kering dengan sirkulasi udara lancar guna mencegah tumbuhnya jamur aflatoksin pada biji kacang.